HPN 2019 di Surabaya

170

HARI Pers Nasional (HPN) yang jatuh tanggal 9 Pebruari 2019 akan dilaksanakan di Surabaya rencananya dihadiri Presiden Jokowi. Penetapan HPN setiap tanggal 9 Pebruari tersebut didasarkan kelahiran organisasi wartawan Indonesia (PWI) tanggal 9 Pebruari 1946 di Surakarta.

Bagi insan pers, baik itu lembaga maupun pelaku baik senior dan junior biasanya akan menggunakan momen seperti ini untuk membahas perkembangan dan masa depan Pers. Dalam sejarah Pers Indonesia, bahwa Pers telah terbukti ikut mengambil peran yang demikian besar terhadap perjuangan dan mengisi kemerdekaan. Oleh sebab itu begitu pentingnya peringatan HPN ini bagi insan Pers, sejak ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor: 5 tahun 1985 dalam setiap peringatan, boleh dikatakan selalu dihadiri oleh Presiden.

Pernah suatu ketika Presiden Jokowi pada awal pemerintahan tidak hadir dalam perhelatan peringatan HPN di Batam tahun 2015. Apa yang terjadi. Mendapat kritik dari ketua PWI dan media mainstream (radio, TV, cetak) waktu itu. Walupun kritik tersebut dalam bentuk canda. ’’Jadi teman-teman kita tidak perlu lagi mempertanyakan kenapa Pak Presiden tidak hadir. Nggak apa-apa nggak dihadiri oleh presiden. Wakil Presiden atau Presiden sama saja. Malah lebih berpengalaman Wapres,’’ kata Margiono sebagai ketua PWI waktu itu yang tentu disambut tawa ratusan insan Pers nasional yang hadir.

Oleh sebab itu pada HPN tahun 2016 di Mataram NTB secara tegas Pak Jokowi sebagai presiden meminta maaf, karena pada tahun sebelumnya tidak bisa hadir. Sebenarnya ketidakhadirannya pada waktu itu ada tugas negara sebagai Presiden sedang melakukan kunjungan kenegaraan di negara Asean. Dari peristiwa tersebut menunjukkan betapa strategisnya peringatan HPN pejabat politik dan juga bagi media khususnya pelaku media mainstream.

HPN 2019 yang akan dilaksanakan di Grand City Convention and Exhibition Hall tersebut mengusung tema ’’Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital’’. Sedang fokusnya bagiamana Pers berperan mengentaskan sektor UKM dan tentunya ekonomi kerakyatan dengan memanfaatkan digital. Kita tidak mungkin menghalangi digital seperti sekarang serta masa depan.

Dari tema tersebut setidaknya ada dua hal yang patut menjadi perhatian. Yang pertama, fungsi Pers sebagaimana amanat UU No 40 tahun 1999 tentang Pers yaitu Pers berfungsi sebagai media informasi dan pendidikan. Sebagai media informasi dan pendidikan bagaimana pers dan memberikan informasi dan pendidikan masyarakat menghadapi era digital sekarang ini. Mengapa ini perlu terus disampaikan kepada masyarakat?

Menurut World Economic Forum (2016) menyampaikan bahwa antara tahun 2015 sampai dengan 2020 pekerjaan yang akan berubah sekitar 35 persen. Apa yang disampaikan Forum Ekonomi Dunia sekarang ini sudah menjadi kenyataan. Setahun yang lalu kalau kita masuk pintu tol harus melakukan transaksi dengan tunai saat ini sudah tidak ada lagi. Demikian juga tiga tahun yang lalu kita beli tiket kereta api masih harus lewat travel atau antri di stasiun saat ini sudah cukup beli lewat tilpon pintar kita. Masih banyak kalau akan diuraikan satu persatu. Berapa saja pekerjaan yang sekarang hilang atau berubah. Pertanyaannya penjaga pintu tol pegawai travel terus kemana.

Namun demikian era digital juga banyak memberikan peluang seperti misal bisnis. Kalau dulu UKM supaya berkembang harus punya toko di pinggir jalan. Saat ini produsen UKM dari dapur bisa langsung berhubungan dengan pelanggan. Bisa langsung transaksi dengan pelanggan lewat media yang demikian canggih. Toko kalau jaman dulu ada wujud fisik kalau saat ini toko cukup di dunia maya. Bagaimana kehadiran Gojek, Bukalapak dan lain-lain. Tentu banyak peluang lainnya. Dari fakta tersebut harus menjadi perhatian semua pihak termasuk media yang memang salah satu fungsinya tadi, memberikan informasi dan pendidikan kepada masyarakat. Tentu menjadi sangat relevan HPN 2019 mengangkat tema tersebut.

Yang kedua, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pers menghadapi era digital seperti sekarang ini. Era digital tidak bisa dihindari. Sebagaimana salah satu hukum di era digital seperti sekarang, siapa yang cepat  dan efisien akan tetap eksis. Apalagi media seperti Pers tantangan dan peluangnya kecepatan.

Sejarah mencatat, ketika internet masuk di Indonesia dan marak digunakan sekitar tahun 2002. Demikian juga telepon selular masih generasi 2G, harian sore Surabaya Post yang terbit di Surabaya, dan merupakan harian sore yang besar dimasanya harus tumbang.

Ketika teknologi belum berkembang seperti internet, harian sore yang live time relatif pendek itu, hanya sekitar empat jam (bandingkan dengan harian pagi mulai jam 06.00 sd 15.00 atau sekitar delapan jam) sempat jaya. Karena koran sore sampai di konsumen atau pembaca sekitar jam 17.00 dan jam 19.00 sudah beralih ke TV. Akan tetapi bisa besar seperti Surabaya Post. Demikian juga Sinar Harapan.

Yang lebih dasyat, ketika teknologi digital sudah demikian berkembang pesat, teknologi selular sudah generasi 4G dan bahkan ke depan akan memasuki era generasi 5G. Betapa cepatnya informasi itu. Sedang Pers itu sendiri pada dasarnya bersaing dalam kecepatan dan keakuratan. Perkembangan teknologi juga memunculkan era big data seperti sekarang ini. Banjirnya informasi yang demikian tak terbatas. Setiap saat informasi hadir.  Upaya untuk berlomba-lomba menjadi yang pertama, seperti karakter media maisnstream.

Tidak mengherankan apabila perkembangan ini media mainstream di Amerika sendiri sudah berapa saja media cetak yang tutup. Seperti surat kabar Tribune, The New York Times, Majalah Newsweek, Majalah Reader’s Digest dan lain-lain. Belum radio, televisi yang juga mendapat tantangan tersendiri. Krisis ekonomi dibarengi perkembangan teknologi yang demikian cepat.

Di Indonesia sendiri sudah berapa saja korbannya. Awalnya Surabaya Post, Sinar Harapan yang kemudian tutup. Lepas dari persoalan internal perusahaan, namun perkembangan teknologi menyebabkan pembacanya mulai meninggalkannya. Yang masih terasa diingatan kita seperti baru saja tutupnya media cetak Bola, yang menyentak kita semua. Media cetak yang sudah demikian besar, eksis, ditopang perusahaan besar dan berpengalaman juga tumbang. Belum radio, juga televisi yang mulai hampir stagnan. Betapa perkembangan cepat ini begitu banyak memakan korbannya.

Tentu sekali lagi tema HPN 2019 kali ini sungguh mulia. Dalam tantangan yang dihadapi Pers itu sendiri agar tetap eksis, masih juga memikirkan untuk kepentingan masyarakatnya bagimana menghadapi era digital. Betapa mulianya sebenarnya tugas Pers. Seperti apa yang disampaikan oleh Thomas Jefferson, Pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan meningkatkan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral dan sosial. Semoga peran itu ke depan masih dipegangnya!!! (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here