Homoseksual Rawan Kena HIV/AIDS

31

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Madiun seperti fenomena gunung es. Jumlah penemuan kasusnya bisa makin membengkak setiap tahun. Sepanjang 2019, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) mencatat ada 92 warga Kabupaten Madiun yang terkena HIV dan 27 orang lainnya menderita AIDS. ‘’Kalau diakumulasikan terdapat 773 penderita HIV/AIDS di Kabupaten Madiun,’’ kata Sekretaris KPAD Kabupaten Madiun Lenny D. Ambarsari Selasa (8/10).

Dia menuturkan, penemuan HIV/AIDS di Kabupaten Madiun seperti fenomena gunung es. Hanya permukaannya yang terlihat. Jika ditelusuri lebih jauh, dia yakin jumlah yang ditemukan pasti lebih banyak. Bahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim sempat menyebut bahwa di Kabupaten Madiun teridentifikasi ada sekitar 1.400 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). ‘’Karena tidak sedikit dari mereka masih merasa malu untuk memeriksakan penyakit yang dideritanya,’’ terang Lenny.

Pihaknya sudah memetakan kawasan merah tempat penularan HIV/AIDS di Kabupaten Madiun. Salah satunya di Kecamatan Jiwan. Di kawasan berisiko tersebut, banyak ditemui warung remang-remang. Sehingga rawan terjadinya penularan HIV/ AIDS karena diduga menjadi lokalisasi terselubung.

Di samping itu, banyak di antara pekerja seks komersial (PSK) yang berasal dari  luar daerah. Sehingga, makin memperlebar risiko terkena HIV/AIDS. Karena mereka sebelumnya tidak di-screening. ‘’Pasangan homoseksual juga rentan terkena penyakit tersebut,’’ ujar Lenny.

Sampai saat ini, pihaknya mencatat ada 16 kasus HIV/AIDS karena faktor homoseksual. Dari jumlah tersebut, 12 ODHA di antaranya merupakan waria.  Kini pihaknya getol melakukan sosialisasi kepada kalangan yang masuk kelompok berisiko tinggi menderita HIV/AIDS.

Selain itu, pihaknya kerap melakukan tes voluntary counselling and testing (VCT) mobile di tempat berisiko tersebut. Nantinya, jika ditemukan ada yang positif mengidap HIV/AIDS, akan diobati. ‘’Yang paling penting adalah keaktifan dari penderita itu sendiri untuk memeriksakan kondisinya. Karena ada juga penderita yang sudah kami dampingi, mereka tidak cekatan. Padahal, seharusnya mereka kontrol setiap hari untuk mendapatkan pengobatan,’’ terang Lenny. (mgc/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here