KesehatanMadiun

HIV/AIDS Mengancam, Wali Kota Butuh Data By Name By Address

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Hari AIDS Sedunia diperingati 1 Desmber. Kota Madiun masih dihantui penularan penyakit mematikan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kota Madiun dr AS Wardhani mengatakan, data per Oktober 2019 menyebutkan risiko penularan AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada heteroseksual.

Seks berisiko, antara lain praktik prostitusi atau jasa layanan plus-plus. ‘’Mereka yang masuk kategori risiko dimohon memeriksakan diri. Jangan sampai sudah HIV menularkan kepada orang lain,’’ katanya.

Mata rantai penularan kian panjang ketika penderita AIDS kategori risiko heteroseksual memiliki istri. Otomatis, istrinya berpotensi tertular. Apalagi, jika istrinya sedang hamil. ‘’Makanya bagi ibu hamil kami lakukan pemeriksaan HIV. Kalau positif HIV, kami akan perlakukan khusus. Karena berisiko pendarahan yang mengancam ibu dan janinnya,’’ terang Wardhani.

Pihaknya mencatat 390 orang terpapar HIV sepanjang 2004 sampai Oktober 2019. Dari jumlah tersebut positif AIDS 193 penderita. Bahkan, hampir separonya meninggal dunia. Selain itu, paling banyak laki-laki.

Untuk menekan kasus AIDS di Kota Madiun, dinkes sudah mengeluarkan sejumlah cara pencegahan. Seperti konsultasi ke dokter dan melakukan pengetesan. Kemudian memakai kondom untuk aktivitas seks berisiko, sirkumsisi (khitan/sunat), obat ARV, pencegahan untuk pengguna jarum suntik (penasun), dan pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA). ‘’Khusus ibu hamil, mereka harus diperiksa status HIV-nya. Sedangkan, untuk penanganan ARV kami gratiskan,’’ urainya.

Dinkes memprediksi masih banyak penderita penyakit mematikan tersebut yang enggan memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Jumlahnya sekitar 1.300-an orang. Kondisi itu diibaratkan seperti fenomena gunung es.

Untuk itu, pihaknya terus meregistrasi mereka yang berpotensi terpapar HIV. Misalnya di Lapas Madiun. Mereka yang positif AIDS ditangani berkala. Seperti pemberian obat dan pemeriksaan petugas puskesmas. ‘’Sekarang di tingkat puskesmas sudah dapat melayani ARV,’’ ungkapnya.

Pihaknya juga melakukan mobile VCT. Tahun ini sudah 6.267 orang dites HIV. Hasilnya, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersisa 110 penderita di Kota Madiun. ‘’Ada beberapa yang sudah meninggal dan sudah pindah (ke daerah lain),’’ jelas Wardhani.

Wali Kota Madiun Maidi meminta dinkes melaporkan warganya yang terpapar HIV/AIDS. Sehingga, dia bisa membantu memberi penyuluhan agar tidak menyebar luas. ‘’Semua bicara pencegahan, tapi kita tidak tahu yang terkena HIV. Memang identitas mereka dirahasiakan, tapi kalau kita tidak tahu, lalu apa yang harus dicegah,’’ katanya.

Untuk itu, dia meminta Wardhani segera memberi data by name by address. Sehingga, program penyuluhan yang diberikan benar-benar mereka terapkan. (her/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close