Hindari Razia, Dagangan Hancur Tertimpa Tubuh

508

Tegar Tri Putra rela berpanas-panas jajakan kerupuk di lampu merah. Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Tegar Tri Putra rela menghabiskan sebagian waktunya dengan berjualan di jalanan. Lampu merah utara Terminal Purboyo seolah menjadi rumah keduanya. Di sana dia menjajakan kerupuk kepada pengguna jalan yang sedang berhenti.

——————

TRAFFIC light utara Terminal Purboyo menyala merah. Tegar Tri Putra yang semula duduk di trotoar bergegas menghampiri satu per satu kendaraan yang sedang berhenti. Bocah 13 tahun itu menawarkan kerupuk dalam kantong plastik besar yang dibawanya dari rumah.

Tak jarang pengendara yang dihampiri mengangkat tangan atau menggelengkan kepala tanda tak tertarik membeli. Namun, Tegar tidak patah arang. Setelah beberapa kesempatan, seorang pengguna jalan menyodorkan selembar uang. ‘’Agak sepi, ini masih banyak,’’ ujar Tegar sambil melirik kerupuk dagangannya.

Sejak Ramadan tahun lalu Tegar berjualan kerupuk di lokasi tersebut. Itu dilakukan atas inisiatif pribadi, semata demi meringankan beban orang tua. Aktivitas tersebut dilakoni sepulang sekolah di salah satu SMP di Kabupaten Madiun. ‘’Namanya juga jualan, kadang habis, kadang juga sisa banyak,’’ katanya sembari menyebut saban hari membawa 90 bungkus kerupuk.

Jika dagangannya terjual habis sebelum hari beranjak sore, Tegar menghabiskan waktunya bermain bola di lapangan dekat rumahnya di Jalan Kasatrian, Kelurahan Nglames, Kecamatan/Kabupaten Madiun. ‘’Malam hari bantu ibu membungkus kerupuk,’’  ungkapnya.

Dia sempat mendapat teguran dari pihak sekolah karena pernah kedapatan berjualan dengan masih mengenakan seragam. Tegar juga sempat ditangkap petugas satpol PP. ‘’Setelah tahu kalau saya ini hanya berniat jualan akhirnya dilepas,’’ kenangnya.

Tidak sekali itu Tegar menjadi sasaran razia petugas. Sebelumnya dia beberapa kali harus lari menghindari garukan. Bahkan, pernah kerupuk dagangannya hancur karena tertimpa tubuhnya. Sedangkan tangannya babras akibat tergores aspal.

Tak jarang pula dagangannya raib. Entah diambil tangan-tangan jahil maupun dicomot orang gila. Belakangan ibunya sengaja menemani Tegar berjualan. ‘’Ibu cuma mengawasi, yang menawarkan tetap saya,’’ ujarnya. ***(fatihah fiqri/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here