Hilang 23 Hari, Ditemukan Membusuk

33

PACITAN – Setelah hilang 23 hari, Soirah ditemukan. Namun, kondisi nenek 51 tahun asal Desa Tahunan, Tegalombo, Pacitan, itu tidak bernyawa, Sabtu (27/4). Jasad korban ditemukan tertutup bebatuan dalam kondisi mengenaskan di Sungai Bandu. Jasadnya mulai membusuk. ‘’Soirah ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia,’’ kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan Didik Alih Wibowo kemarin (29/4).

Penemuan jasad Soirah bermula saat Dwi Ahmad, warga Desa Ploso, Tegalmobo, hendak memancing di Sungai Bandu. Langkahnya terhenti setelah mencium bau busuk. Dwi pun mencari asal bau tersebut. Ternyata dari jasad yang tersembunyi di balik bebatuan sungai. Dia sempat mengira bangkai binatang. ‘’Terlihat kakinya,’’ tambahnya.

Temuan tersebut lantas diceritakan kepada warga lainnya hingga sampai ke perangkat desa setempat dan keluarga Soirah. Setelah diperiksa, ciri fisik dan pakaian yang dikenakan cocok. Petugas pun mengevakuasi dibantu warga setempat.  ‘’Setelah evakuasi, sekitar pukul 19.00 jasad dimakamkan,’’ tuturnya.

Menurut dia, korban meninggalkan rumah sejak pukul 14.00, Kamis (4/4). Diperkirakan hendak ke sawah. Namun hingga petang, ibu dua anak itu tidak juga pulang. Sempat diduga hanyut terseret arus Sungai Bandu. Pasalnya jarak sungai dan sawah hanya sekitar 200 meter. Sedangkan saat hilang sedang hujan lebat dan sungai banjir. Sementara pencarian tidak kunjung membuahkan hasil. ‘’Akhirnya ditemukan setelah air sungai mulai surut,’’ jelasnya.

Diberikan sebelumnya, Soirah tiba-tiba hilang. Meski sudah dicari ke hutan hingga sungai, perempuan tersebut tidak juga ditemukan. Panimin menduga mertuanya terseret arus sungai setelah menemukan caping dan celana Soirah di pinggir sungai. Korban diperkirakan nekat menyeberang meski arus deras. Kenekatan tersebut bisa jadi akibat gangguan jiwa yang diderita Soirah.  (odi/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here