Hidup Bermanfaat Sasmoyo Yudhi Hantarno

15
JIWA SOSIAL: Sasmoyo mengajak warga desanya berdaya dengan aneka usaha.

Hidup Sasmoyo Yudhi Hantarno benar-benar bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Setelah gagal berbisnis di luar kota, dia memutuskan pulang kampung. Memberdayakan warga desanya hingga mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

===============

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

RUMAH Sasmoyo tak hanya ditempati keluarganya. Juga, dimanfaatkan sebagai sekretariat untuk  kelompok tani hutan (KTH)  Arga Lestari. Itu terlihat dari banyaknya foto-foto kegiatan yang tergantung di dinding rumahnya. Lengkap dengan banner bertuliskan Kanag Pinus. ‘’Di depan rumah, juga ada tulisan sekretariat-nya,’’ kata pria 42 tahun ini.

Sasmoyo mantap mengabdikan dirinya untuk pemberdayaan masyarakat. Mulai dari pertanian, peternakan, sampai menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan mendorong masyarakat memanfaatkan getah pohon pinus yang  banyak tumbuh di lingkungan setempat. ‘’Salah satu produk unggulan di sini memang getah pinus,’’ ujarnya.

Lulus kuliah di Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sasmoyo sempat menjadi penyuplai beras. Namun, hanya bertahan setahun. Bapak dua anak ini memutuskan pulang kampung ke Petuk, Selur, Ngrayun, 2003 silam. ‘’Awalnya, saya beternak dulu. Bapak saya dulunya juga ternak kambing,’’ paparnya.

Masih lekat dalam ingatan Sasmoyo akses transportasi dan komunikasi tidak sebagus saat ini. Perjalanan dari desanya menuju perkotaan dirasakan jauh. Jalanannya makadam. Sasmoyo tetap semangat menjajakan kambingnya dari satu desa ke desa lain hingga Jawa Tengah. ‘’Zaman segitu belum ada HP. Kalau dengar info, saya telusuri sampai ketemu kambingnya,’’ tuturnya.

Setelah bisnis kambing etawa mulai jalan, Sasmoyo berinisiatif mengajak warga membuat kelompok peternak. Dari kelompok itu, semakin banyak yang tertarik berbisnis kambing etawa. Istrinya pun mengajak ibu-ibu membentuk kelompok pemberdayaan masyarakat. Mengolah aneka hasil alam. ‘’Singkong, ubi, ketela, dan umbia-umbian lainnya diolah jadi sale. Lalu dipasarkan ke toko-toko,’’  bebernya.

Terbaru, Sasmoyo mengajak warga desanya ternak tawon klanceng. Menunjuk salah satu rumah anggota yang telah memiliki puluhan kotak kayu lebah. Masyarakat pun belajar satu sama lain. ‘’Kualitas madu dari tawon klanceng ini tidak kalah bagus dengan madu pada umumnya. Budi dayanya mudah karena tawonnya tidak menyengat,’’ jelasnya. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here