Opini

Hidup Baru

Oleh: Arfinanto Arsyadani

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madiun

KEKACAUAN itu bermula ketika seorang pria parobaya berlari ke arah supermarket. Dengan hidung mimisan, dia mengabarkan ada sesuatu di balik kabut. Ketika tak satupun menyadari apa yang sebenarnya terjadi, pria berjaket coklat berpadu kemeja kotak biru itu kembali berteriak. Meminta semua pintu ditutup. Puluhan orang terkunci di dalam supermarket. Lockdown.

Nyaris tak ada yang berani keluar, meski sekadar melongok ke tempat parkir. Kecuali seorang ibu yang terpaksa memberanikan keluar sendiri. Karena tak tega meninggalkan kedua buah hatinya di rumah saat ditinggal belanja. Sumpah serapahnya membuat merinding setiap orang yang hanya bisa terpaku ketika dirinya mengiba minta diantarkan pulang. Tangannya gemetar menarik gagang pintu. Perempuan berambut pendek itu hilang di balik tebalnya kabut.

Kepanikan menghadapi yang tak terlihat itu dikisahkan dalam The Mist (2007). Film besutan Frank Darabot itu mengadaptasi novel Stephen King. David Drayton (tokoh utama diperankan Thomas Jane) bersama anaknya Billy Drayton (diperankan Nathan Gamble) ikut terjebak di dalam supermarket.

Kekalutan berkelindan. Beberapa orang berguguran. Diawali rombongan Bren Norton yang nekat menembus kabut untuk menuju pusat kota. Namun, rombongan yang dipimpin pengacara yang diperankan Andre Braugher itu hanya menjangkau beberapa meter dari pintu supermarket. Orang-orang tersentak ketika tali yang mengikat rombongan itu tertarik kuat, lalu terputus. Hanya potongan tubuh yang masih bisa ditarik kembali dari tebalnya kabut. Situasi diperumit sikap Nyonya Carmodi yang terus-terusan memprovokasi orang-orang di dalam supermarket. ‘’Semakin gila seseorang, semakin menonjol dirinya.’’ Begitu pendapat pegawai supermarket menilai tokoh perempuan yang diperankan Marcia Gay Harden itu.

David tak tahan lagi. Dia mengajak beberapa orang berembuk di gudang untuk keluar dari supermarket. Mencari tempat yang lebih aman. Menjauhi teror selama terkunci di supermarket. Setelah sedikit berdebat, orang-orang itu sepakat dengan keputusan David. Berbekal satu pistol berisi sepuluh peluru, mereka bersiap menyongsong hidup baru.

‘’Kita pergi ke selatan sejauh mungkin. Mencoba keluar dari kabut ini.’’

‘’Tapi siapa yang tahu seberapa jauh kabutnya menyebar? Bisa saja ke seluruh pesisir timur.’’

‘’Ya, bisa saja ke seluruh dunia. Kita belum mati sekarang, kan?.’’

Rencana besar itu tak berjalan mulus. Monster kembali menyerang di tempat parkir. David, anaknya dan tiga lainnya berhasil lolos dari cengkeraman monster. Dengan keyakinan dan persedian bahan bakar yang menipis mereka tetap melaju. Setelah bensin benar-benar habis, lima nyawa yang tersisa di dalam mobil itu tinggal punya dua pilihan. Pasrah diserang monster atau mengakhiri hidup sendiri. Tapi pistol tersisa empat peluru.

Setelah letupan keempat, David keluar dari mobil. Pistol di tangannya sudah tak berpeluru. Dengan putus asa, dia mencoba mengakhiri hidupnya. Sisa keberanian dikumpulkan untuk menantang monster tak jelas terlihat itu. Tapi yang dinanti tak muncul lagi.

Dari balik kabut, tiba-tiba iring-iringan mobil militer melintas di dekatnya. Menyelamatkan warga, termasuk perempuan berambut pendek yang memutuskan keluar supermarket di awal cerita. Seketika hidup David terasa hampa. ‘’Mereka mati untuk apa?’’ Bersimpuh di samping mobil dengan bercak darah di setiap sisi kacanya, pria yang telanjur mengakhiri hidup empat orang dekatnya itu meratapi hidup barunya. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close