Magetan

Hibah PUAP Tersendat, Petani Gigit Jari

Telisik Rasuah Pinjaman Dana Hibah

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Hibah pengembangan usaha agribisnis perdesaan (PUAP) masuk meja penyidikan polisi. Penyaluran dana untuk pinjaman modal petani itu diduga dikorupsi. Sehingga membuat penyalurannya tidak tepat sasaran.

Kasatreskrim Polres Magetan AKP Ryan Wira Raja Pratama mendapati informasi bahwa PUAP digondol oknum di gabungan kelompok tani (gapoktan). Jika benar demikian, petani gigit jari karena pinjaman itu tidak berputar dengan semestinya. ‘’Ada beberapa yang dibawa kabur, ada juga yang memang belum bisa dilunasi,’’ ujarnya.

Ryan tak ingin terburu menarik kesimpulan. Laporan yang telah masuk terus didalami. Pihaknya juga perlu memahami alur penyaluran dana bantuan bergulir tersebut. Jika terkandung pidana korupsi, apakah murni dilakukan oknum di gapoktan saja atau ada keterlibatan dari pihak pendamping. Informasi lain yang dihimpun, dana yang sudah berkembang sempat digunakan oknum untuk keperluan pribadinya. ‘’Prosesnya panjang. Kami perlu telusuri lebih dalam,’’ terangnya.

Satreskrim Polres Magetan mewanti-wanti dinas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan tanaman pangan (DTPHPKP). Agar memberikan ultimatum bagi seluruh gapoktan di Magetan. ‘’DTPHPKP sudah kami klarifikasi. Kami tanyakan juga seperti apa tindakannya selama ini. Apakah ada teguran atau semacamnya,’’ imbuhnya.

Bisa jadi perkara yang diselidiki belum menunjukkan permasalahan secara keseluruhan. Butuh keberanian dari masyarakat untuk menyampaikannya ke permukaan. Agar penyelidikan terang benderang. ‘’Apakah seluruh gapoktan ada praktik seperti itu, kami belum bisa memastikan. Perlu waktu untuk membuktikan,’’ tegasnya.

Bisa jadi kasus ini menggurita. Tentu, polisi kesulitan jika semua pihak yang terlibat diproses hukum. Ke depan perlu mediasi terkait penyaluran PUAP. ‘’Sifatnya ini global tidak di satu tempat. Semuanya merata,’’ katanya. (fat/c1/fin)

Beban Pengawasan Inspektorat Terlalu Berat

INSPEKTORAT menanggung beban pengawasan terlampau berat. Banyaknya penugasan baru membuat pengawas internal pemerintahan ini keteteran mengawasi 235 desa/kelurahan di Magetan. Audit yang idealnya dilakukan dua kali setahun kini terpangkas. Sementara persoalan hukum yang menjerat desa-desa terus berkelindan. ‘’Kami hanya kuat sekali dalam setahun. Itu pun belum menjangkau semuanya,’’ kata Plt Inspektur Inspektorat Imam Fauzi.

Audit memang tidak mutlak dilakukan setiap bulan. Namun, luputnya pengawasan dari internal pemerintahan kerap dijadikan celah oknum desa untuk melakukan pelanggaran. Beberapa sampai mencuat ke permukaan dan berujung pengaduan oleh masyarakat. ‘’Pengaduan itu muncul di sepanjang tahun. Dari desa mana pun dan menyoal apa pun,’’ ujar Imam.

Inspektorat kewalahan untuk melakukan audit secara merata. Tahun lalu saja, belum seluruh desa termonitor. Selain kekurangan SDM, Inspektorat juga diminta mengawasi penyaluran dana Covid-19. Pun, beberapa desa kurang proaktif untuk berkonsultasi, terlebih urusan administrasi. Sehingga terjadi kebuntuan komunikasi yang berujung pelaporan masyarakat. ‘’Belum semua kepala dan perangkat desa terbuka. Kami paham perlu adanya pembenahan pola pikir,’’ tuturnya.

Sosialisasi pun dianggap tidak efisien. Perlu ada praktik langsung agar pemdes mandiri menjalankan tugasnya di kemudian hari. Sudah ada tim ahli di masing-masing bidang yang mumpuni. Mereka bisa memandu pelaksanaan anggaran agar tersusun dan terencana dengan baik. ‘’Perlu waktu seharian untuk pembinaan,’’ katanya.

Tidak semua pengaduan masyarakat benar. Seperti dugaan penyelewengan dana desa (DD) Rejomulyo. Setelah ditelisik, aduan warga desa di Kecamatan Panekan itu tidak terbukti. ‘’Sedari awal kadesnya proaktif. Cukup memudahkan kami untuk klarifikasi. Tidak ada bukti, selesai,’’ ungkapnya. (fat/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close