Heroisme Ayup Welliansyah di Setiap Bencana

120

Setiap terjadi insiden warga tercebur sumur, nama Ayup Welliansyah selalu disebut. Petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Ponorogo itu memiliki keahlian mendaki yang cukup baik. Beginilah pengalamannya saat mengevakuasi korban di Muneng, Balong.

———————-

PENDIAM dan tenang. Dua kata itu patut menggambarkan kepribadian Ayup Welliansyah. Di tengah ratusan warga yang memadati tempat kejadian perkara (TKP), dia tetap fokus melakukan evakuasi. Sumur sedalam 20 meteran, pastilah membuat nyali siapa pun ciut untuk memasukinya. Namun, tidak demikian dirasakan Ayup. Usai seluruh peralatan terpasang, dia bersiap masuk ke sumur tersebut. Ada tiga tali utama yang dijulurkan. Tali pertama diikatkan di tubuh Ayup untuk keselamatan. Tali kedua untuk menarik jasad korban di dasar sumur. Tali ketiga sebagai pengikat gas oksigen untuk membantu pernapasan si penyelamat. ‘’Pengap dan gelap, minim udara,’’ kata anggota TRC BPBD Ponorogo itu.

Sebelum evakuasi, petugas gabungan pasti melakukan diskusi cepat. Dipilihlah nama Ayup untuk masuk ke dalam sumur dan melakukan evakuasi. Sebelum masuk ke sumur, dia memeriksa seluruh peralatan dan perlengkapan yang digunakan. Mulai tali, helm, senter, hingga tabung oksigen. Berulang kali, dia juga harus mengukur kekuatan ikatan pengait tali yang akan membawanya ke dasar sumur. ‘’Semua peralatan harus benar-benar siap. Jangan sampai ada kesalahan,’’ ujarnya.

Ayup berdiri di bibir sumur hendak masuk ke dalam. Salah seorang petugas memimpin doa agar proses evakuasi berjalan lancar. Perlahan, Ayup mulai masuk ke dalam sumur. Di mulutnya terdapat slang oksigen untuk bantuan bernapas. Sementara tabungnya disusulkan usai tubuhnya masuk ke dalam sumur. Beberapa menit kemudian, terdengar Ayub berteriak meminta tali agak dijulurkan. Petugas lain di bibir sumur tak henti mengucurkan air ke dalam sumur. Agar udara tidak pengap dan oksigen tidak semakin menipis. ‘’Jasad korban kakinya berada di atas, kepala di bawah. Tapi belum kaku, jadi tidak terlalu sulit untuk menaikkan ke atas,’’ ungkap pria kelahiran 1996 itu.

Di dasar sumur, Ayub harus menahan tubuh dengan tumpuan kaki di dinding sumur. Beberapa kali dia terpeleset lantaran dinding sumur yang berlumut dan licin. Bergegas dia mengikat tubuh korban dengan tali. Kembali dia menarik-narik tali untuk memastikan kekuatan ikatan. Setelah dirasa cukup kencang, dia memberikan aba-aba kepada petugas di bibir sumur. Tali pengikat tabung oksigen perlahan diangkat. Bersamaan itu pula tali pengikat tubuh Ayub diangkat ke atas. ‘’Lega rasanya bisa menjalankan proses evakuasi dengan lancar,’’ ucapnya.

Sekembalinya ke bibir sumur, Ayup bergegas melepaskan tali dan mengambil air minum. Di saat itu pula, jasad korban diangkat perlahan sebelum akhirnya dilakukan pemeriksaan medis. Cerita itu bukan pengalaman pertama bagi dirinya. Bulan lalu, Ayup juga mengevakuasi warga Prajegan, Sukorejo, yang tercebur sumur. Waktu itu, evakuasinya lebih sulit. Sebab, hari sudah gelap dan menggunakan alat seadanya. ‘’Lebih sulit yang sebelumnya, alat seadanya. Jadi terkenang pengalaman mendaki,’’ tuturnya.

Rupanya, keahlian dan keberanian itu terlatih dari hobi mendaki yang dijalaninya enam tahun lalu. Berbagai gunung telah dia taklukkan. Mulai Gunung Rawung, Argopuro, Semeru, Butak, Arjuno, Welirah, hingga Rinjani dan Kerinci. Hanya, sensasi mendaki jauh berbeda saat melakukan proses evakuasi. Dalam mendaki, risiko yang harus dihadapi adalah menaklukkan alam. Sementara evakuasi, menurutnya sedikit ada rasa takutnya karena menyangkut keselamatan orang lain. ‘’Demi misi kemanusiaan, rasa takut harus dienyahkan. Hidup harus bisa membantu sesama,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here