Hendry Putra Pratama, Pembuat Miniatur dari Koran Bekas

22

MADIUN – Tangan dingin Hendry Putra Pratama mampu mengubah koran bekas menjadi pundi–pundi rupiah. Selain menerima pesanan beberapa daerah di Jawa Timur, dia kerap dimintai tolong menjadi mentor bagi adik kelas alumni SMA-nya.

Di atas meja siku, miniatur kapal layar serta dua buah asbak model patung Asmat terpajang. Bila diamati lebih dekat, perabotan tersebut bukan berbahan kayu, melainkan bubur kertas koran. Penghias ruang tamu tersebut hanya beberapa di antara seni kriya buah tangan Hendry Putra Pratama. ‘’Asbak patung Asmat kenangan juara 1 FL2SN (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) Kabupaten 2016,’’ kata Hendry.

Hendry belajar memanfaatkan koran bekas dari guru kesenian SMA. Bereksperimen dengan barang bekas dijadikan karya punya nilai jual. Dia lantas menduplikasi hingga sering menerima pesanan sejumlah kota di Jawa Timur. Karyanya juga sering diikutkan lomba dan memperoleh juara. Misalnya, ikan koi tiga dimensi di pigura. Kemampuannya itu ternyata tetap dipercaya hingga lulus SMA. ‘’Guru sering menghubungi saya minta tolong memberikan pendampingan ke siswa yang punya minat di seni kriya,‘’ ujar pemuda 19 tahun.

Karya Hendry dibanderol paling murah Rp 75 ribu seperti asbak. Miniatur kapal, lukisan tiga dimensi, dihargai ratusan ribu sesuai dengan tingkat kerumitan. Hingga kini yang termahal adalah karya relief keramaian pasar seharga Rp 1,25 juta yang dibeli direktur RS Paru Dungus tahun lalu. Karya tersebut sebetulnya bukan untuk dikomersilkan, melainkan sekadar dipamerkan dalam peringatan ulang tahun ke-79 rumah sakit tersebut. ‘’Nah, direkturnya ternyata suka dan akhirnya dibeli,’’ kenangnya.

Bagi warga Desa Kresek, Wungu, ini pembuatan karya menggunakan bubur kertas koran cukup rumit. Tahapan paling rumit proses membentuk wujud sesuai pesanan dengan adonan. Sebab kaitannya adalah kesesuaian dengan riilnya yang memengaruhi proses pewarnaan. ‘’Karya yang sudah saya buat paling cepat selesai lima hari dan terlama tiga minggu,’’ ungkap Hendry.

Awal pembuatan dimulai dengan merendam air koran bekas yang dibeli dari tukang loak. Proses tersebut butuh semalam penuh agar kertas benar-benar hancur. Selanjutnya, rendaman koran yang sudah ditiriskan dari air dicampur dengan lem kanji dan lem kayu. Tahapan itu cukup sulit karena pencampuran menggunakan alu dan lumpang. Membutuhkan tenaga ekstra karena ketika alu diangkat, terasa lebih berat akibat lem melekat. Bahkan, sulung dua bersaudara itu kerap minta bantuan bapaknya. ‘’Bantu menumbuk sampai benar-benar rata dan tercampur,’’ ucapnya seraya menyebut butuh lebih dari satu jam agar tercampur sempurna.

Selanjutnya, campuran adonan tersebut dicetak berbentuk tiga dimensi sesuai keinginan atau pesanan pada media pigura kayu. Nah, proses itu yang memakan waktu berminggu–minggu. Setelah beres, dilanjutkan penjemuran hingga kering. ‘’Kalau tidak betul-betul kering, memengaruhi pengecatan dan kualitas karya yang mudah rusak,’’ pungkasnya. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here