Hasil UNBK Tak Memuaskan, Salahkan Jadwal Pemilu Serentak

118

MADIUN – Pemilu serentak jadi kambing hitam tak memuaskannya hasil ujian nasional berbasis komputer (UNBK) 2018/2019 jenjang SMK di Kabupaten Madiun. Pesta demokrasi yang dihelat April menggeser waktu pelaksanaan ujian bernama lain computer based test (CBT) sebulan lebih awal. Persiapan 4.268 peserta terpangkas hingga mengakibatkan nilai tiga dari empat mata pelajaran (mapel) yang diujikan di bawah standar. ’’Jadwal UNBK biasanya kan April, tapi ini dimulai Maret,’’ kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Negeri Kabupaten Madiun Supriyadi Senin (13/5).

Berubahnya jadwal ujian itu berbenturan dengan program yang telah disiapkan oleh manajemen sekolah sedari awal. Solusinya melakukan penyesuaian dan mempercepat kegiatan pembelajaran agar para siswa mampu menyerap materi ujian. Persoalannya, sistem pembelajaran SMK jauh berbeda dengan SMA. Siswa kejuruan terdapat praktik kerja lapangan selama enam bulan sebagai pembekalan pasca lulus. Sehingga peserta ujian nasional (unas) harus membagi waktunya untuk belajar teori. ’’Dari ukuran waktu, persiapan kami berkurang,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Alasan lain, Supriyadi menyebut tugas guru dalam mendidik siswa di era sekarang lebih berat ketimbang dulu. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Salah satunya, hasil UNBK bukan menjadi penentu kelulusan. Kebijakan itu diakuinya membuat siswa bermalasan-malasan belajar. Hasil kegiatan belajar-mengajar (KBM) ditambah intensifikasi belajar (IB) di sekolah tidak cukup signifikan menambah ilmu dan wawasan. Sebab tidak ada dukungan pembelajaran serupa di lingkup keluarga siswa dan lingkungan tempat tinggal. ’’Juga bukan rahasia umum bila anak-anak sekarang lebih sering menghabiskan waktu dengan gadget dan nongkrong ketimbang belajar,’’ katanya sembari menekankan keberhasilan pendidikan tidak hanya bersumber sekolah, tapi perlu dukungan orang tua dan lingkungan.

Kendati demikian, pria yang juga kepala SMKN 2 Jiwan ini tidak bisa mengelak bila era digitalisasi merupakan keniscahyaan. Para siswa tidak bisa menghindari pesatnya perkembangan zaman. Karenanya, perlu ada kerjasama dengan berbagai pihak agar laju modernisasi itu tidak berdampak buruk bagi dunia pendidikan. ‘’Evaluasi dan pembenahan terus dilakukan. Meski masih ada nilai mapel di bawah standar, tapi trennya mulai turun,’’ tuturnya.

Sementara, ketua MKKS SMA Negeri Kabupaten Madiun Tedjo Sasono menilai, masih belum memuaskannya nilai UNBK SMA karena permasalahan kurikulum pembelajaran. Ada empat dari 10 lembaga yang sudah menerapkan K-13. Yakni, SMAN 1 Nglames, 1 Mejayan, 1 Geger dan 2 Mejayan. Sisa enam lembaga masih menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Padahal, materi ujian UNBK merupakan irisan antara kedua kurikulum tersebut. Perbedaan tersebut membuat setiap sekolah harus menimbang dengan matang kecenderungan kategori soal yang akan muncul. ‘’Secara umum memang fifty-fifty. Tapi, realisasi pembelajaran hanya sekadar pemantapan dengan sedikit menyinggungnya,’’ paparnya.

Tedjo menambahkan, lembaganya juga masih perlu membiasakan dengan soal higher order thinking skills (HOTS). Mengingat pertanyaan dengan tingkat penalaran tinggi itu baru diaplikasikan dalam dua kali ujian. Upaya efektivitasnya dilakukan lewat pelaksanaan IB dan tryout. ‘’Alhamdulillah, tren siswa SMA yang meraih nilai di bawah 55 se-Jawa Timur turun dari 82 persen menjadi 52 persen tahun ini,’’ ujarnya. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here