MadiunPendidikan

Hasil UNBK SMK Jeblok

MADIUN – Hasil ujian nasional berbasis komputer (UNBK) 2018/2019 jenjang SMK di Kabupaten Madiun jauh dari kata memuaskan. Nilai rata-rata tiga dari empat mata pelajaran (mapel) yang diujikan di bawah standar. Hanya bahasa Indonesia yang di atas 55. Sedangkan bahasa Inggris, matematika, dan kelompok mapel peminatan (KMP) sama-sama di bawah batas kriteria pencapaian kompetensi tersebut. ’’Kami sudah berusaha, tapi hasil akhir memang masih ada yang di bawah standar,’’ kata Kepala Cabdindik Jawa Timur Wilayah Madiun-Ngawi Supardi Minggu (12/5).

Nilai kumulatif ujian empat mapel yang diikuti 4.268 peserta adalah 198,29. Nilai rata-rata bahasa Inggris 43,34: matematika 37,10; dan KMP 47,39. Sedangkan bahasa Indonesia 70,56. Capaian tersebut menempatkan kabupaten ini di peringkat 13 dari 38 kota/kabupaten se-Jatim. Yang melegakan, rata-rata tersebut masih di atas Provinsi Jawa Timur. Dengan urutan yang sama rata-rata provinsi adalah 42,99; 36,43; 45,93, dan 68,67. Sedangkan untuk jenjang SMA sedikit lebih baik. Meski hanya jurusan IPA yang di atas batas kriteria. Yakni, nilai IPA 57,63 dan IPS 52,82. Pun sudah di atas nilai rata-rata provinsi. ‘’Secara umum daerah-daerah lain di Jatim juga memperoleh hasil yang sama,’’ ujarnya.

Kendati demikian, Supardi menolak hasil UNBK tahun ini dianggap jeblok. Sebab, nilai empat mapel SMK naik dibandingkan tahun sebelumnya. Yakni, bahasa Indonesia 67,82 dan bahasa Inggris 41,98 (selengkapnya lihat grafis). Tidak hanya kabupaten, persentase di tingkat provinsi pun lebih baik. Bila tahun lalu 78 persen kini menjadi 75 persen. Sedangkan SMA turun 30 persen dari sebelumnya 82 persen. Hanya, dia tidak mengelak bila hasil UNBK SMK kali ini belum sepenuhnya memuaskan. Mengingat satuan pendidikan dan lembaganya telah melakukan banyak persiapan. ’’Ada beberapa pertimbangan dan kebijakan untuk meningkatkan hasil ujian,’’ katanya.

Menurut dia, penyebab nilai SMK tidak sebagus SMA karena lingkup pembelajaran yang berbeda. Beban belajar yang ditanggung pelajar kejuruan tidak hanya ujian teori, tapi juga praktik kerja. Tugas lapangan tidak bisa dikesampingkan karena orientasinya langsung terjun ke dunia kerja setelah lulus. Sedangkan SMA lebih fokus karena nilai kelulusan menjadi pertimbangan masuk perguruan tinggi. ’’Bisa dibilang, konsentrasi anak SMK terpecah dalam belajar. Kami bisa memakluminya,’’ papar aparatur sipil negara (ASN) yang sempat berdinas di dinas pendidikan Ngawi tersebut.

Dia tidak sepakat kala disinggung hasil UNBK yang bukan menjadi penentu kelulusan ikut memengaruhi rendahnya nilai. Seluruh kepala sekolah diyakini menekankan kepada anak didiknya agar bersungguh-sungguh mengerjakan soal. Mereka punya gengsi dan kepentingan untuk menjaga kualitas sekolah. Pengaruh soal ujian berbasis higher order thinking skill (HOTS) pun sudah tidak sesignifikan tahun lalu. Sebab, lembaganya sudah melakukan pemerataan guru ke sejumlah satuan pendidikan. ‘’Salah satu indikasinya adalah persentase kenaikan tahun ini meski tidak signifikan,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan nilai IPS yang kalah dengan IPA? Supardi menilai persoalan itu ada pada input awal. Kecenderungannya, kualitas siswa yang bisa masuk penjurusan IPA lebih baik ketimbang IPS. ‘’Walau tidak semuanya seperti itu. Karena selanjutnya bergantung pengembangan siswa,’’ pungkasnya. (cor/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close