Magetan

Harus Putus Tren Buruk jika PDIP Ingin Kembali Berjaya

MAGETAN – Berakhirkah masa kejayaan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan di Magetan? Dari periode ke periode, jumlah perolehan kursi dalam pemilihan legislatif (pileg) selalu mengalami penurunan. Ditambah lagi, dalam pemilihan bupati (pilbup) 2018 lalu, PDIP yang mengusung pasangan Miratul Mukiminin dan Joko Suyono mengalami kekalahan.

Bukan tidak mungkin, kondisi semua itu berdampak pada pileg 17 April mendatang. PDIP yang selama beberapa dekade mendominasi perolehan kursi legislatif terancam tergusur. ’’Setiap pileg, selalu turun kursinya,’’ terang pengamat politik Magetan Thoyieb Rantiono.

Pada pileg pertama pasca reformasi, PDIP berhasil menduduki hampir separo kursi dewan. Periode 1999-2004 itu, PDI-P berhasil mendudukkan 21 wakil rakyat. Periode berikutnya pada 2004-2009, anjlok menjadi 17 kursi. Seperti tidak bisa meraih simpati masyarakat, perolehan kursi itu kembali menurun pada pileg periode 2009-2014 hanya 12 kursi. Pileg lima tahun lalu, hanya delapan kursi yang didapat. Tahun ini pun diprediksi akan mengalami penurunan. ’’Kemungkinan-kemungkinan bisa saja terjadi. Bisa saja tidak lagi mendominasi,’’ ungkapnya.

Itu yang sekarang menjadi problem ‘rumit’ partai berlambang banteng moncong putih itu. Meski sejumlah calon legislatif (caleg) berlabel  petahana belum jaminan mengerek suara signifikan. Di dapil 2, ada nama Suyono ‘‘Wiling’’ dan Suyatno. Sedangkan di dapil 4, putra mantan wakil bupati Samsi, Nanang Sapto Aji yang berstatus incumbent.

Lantas bagaimana dengan kampung halaman ketua DPC PDIP Magetan Sujatno? Munculnya owner BPR Ekadharma itu menambah panas suhu politik internal. Ini bisa mengancam eksistensi dua caleg petahana. Karmini dan Rinita Sofia Hadi alias Kohong. Di dapil 5 ini, PDIP sebatas mempertahankan kursi yang ada. Sulit untuk menambah dominasi meski ketambahan Sujatno. ’’Pemilih biasanya melihat figur pimpinan partai,’’ ujar Thoyieb.

Sementara itu, Ketua DPC PDIP Magetan Sujatno justru optmistis pileg tahun ini menjadi kebangkitan parpol berlambang banteng tersebut. Pileg tahun ini, dia bahkan sudah menarget penambahan kursi sebanyak lima menjadi 13 kursi. Setiap dapil dipatok target menambah paling tidak satu kursi dari pesta demokrasi lima tahun lalu. ’’Kami akan mengerahkan semua potensi yang dimiliki, baik struktural maupun relawan. Mulai DPC sampai anak ranting akan kami maksimalkan,’’ terangnya.

Pun, pada dapil 5 Magetan yang digadang-gadang menjadi dapil paling horor bagi PDIP. Dua kursi yang berhasil didapat pada pileg lima tahun lalu. Dimana saat ini, incumbent Karmini dan Sofia Rinita Hadi juga bertarung di dapil itu. Di sisi lain, dirinya juga berusaha merebut kursi dewan. Dia pun menargetkan ada penambahan satu kursi dari dapil honor tersebut. ’’antar caleg kami tidak bersaing. Kami bersaing dengan parpol lain untuk menambah kursi,’’ terangnya.

Kekalahan PDIP dalam mengusung pasangan Gus Amik-Jos pada pilbup tahun lalu, menurut Sujatno justru memberi pengaruh positif. Itu justru menjadi cambuk baginya untuk mengambil kembali kepercayaan masyarakat. Itu pula yang disuarakan kepada semua kadernya. Agar menjadikan pileg 2019 ini sebagai moment kebangkitan PDIP. ’’Kami akan berjuang bersama agar target penambahan kursi bisa terealisasi,’’ pungkasnya. (bel/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close