Hari Wahyono Berkibar dengan Bisnis Kayu Lapis

102

PACITAN – Hari Wahyono tidak bisa tutup mata saat 20 karyawan setianya tak lagi bekerja. Usai bisnis jual-beli semennya limbung pada 2013, dia memutar otak. Puluhan armada truk yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut semen tidak lantas dijual begitu saja, melainkan dimodifikasi untuk mengangkut kayu sengon.

Langkah tersebut dilakukan bersamaan peluang pasar sengon yang sedang bagus-bagusnya kala itu. Terlebih, Pacitan disebut-sebut sebagai salah satu sentra produksi kayu sengon terbaik. “Akhirnya 20 karyawan yang sebelumnya sopir angkut semen itu saya pekerjakan lagi,’’ kenang direktur UD Tunas Subur itu.

Tidak mudah bagi Hari untuk memulai bisnis barunya itu. Hampir tiap pekan suami Setiawati itu wira-wiri ke Surabaya, Gresik, Solo, hingga Temanggung. Dengan modal nekat, setiap melihat cerobong pabrik tripleks, dia memberanikan diri masuk dan menawarkan kayu sengon Pacitan. ‘’Ada yang menolak, tapi ada juga yang akhirnya jadi pelanggan,’’ ujarnya.

Meski telah mempunyai pelanggan, Hari belum puas. Memiliki bahan produksi melimpah dan teknologi yang dianggap bisa dibeli, pada 2012 dia nekat membuka pabrik sendiri. Namun, Hari sempat kalang kabut lantaran kualitas produk tak sesuai ekspektasi. Sambungan lapis kayunya tidak menyatu.

Akhirnya Hari mempekerjakan tenaga berpengalaman asal pabrik tripleks di Solo dan Wonosobo, lengkap dengan mekanik rekomendasi dari suplier mesin pabriknya untuk menjadi trainer bagai pekerja lokal. ‘’Akhirnya berhasil dan sekarang yang bekerja semuanya warga sini,’’ ungkap bapak dua anak ini.

Dari yang semula hanya 34 orang, kini karyawannya mencapai 340 alias 10 kali lipatnya. Mereka mampu memproduksi 75 hingga 80 kubik per hari. Pun, kayu lapis produksinya kini telah merambah pasar Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Amerika Latin. ‘’Untuk Indonesia dan Asia Tenggara kebanyakan untuk material proyek infrastruktur, kalau lainnya lebih ke furniture,’’ jelasnya.

Tingginya permintaan pasar membuat pria kelahiran 18 Juli 1969 itu makin getol mengembangkan usahanya. Pabrik pengolahan kayu lapis yang kolaps pun diakusisinya. Kini Hari mengelola dua pabrik kayu lapis dengan bendera UD Tunas Subur di Tulakan dan PT Putra Tunas Subur di Arjosari. ‘’Saya juga masih mempertahankan toko bangunan, cikal bakal usaha yang saya buka sendiri dengan modal pinjaman bank,’’ ungkapnya. (odi/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here