Hari Prabangsa Nasional

182

HARI Prabangsa Nasional (HPN)! Beberapa rekan pemimpin redaksi di grup Jawa Pos Radar (JPR) membuat status WhatsApp (WA) nyeleneh itu. Saya terhenyak. Seharusnya kepanjangan HPN bukan itu. HPN kepanjangannya Hari Pers Nasional. Peringatannya hari ini, 9 Februari.

Mungkin teman-teman sedang nesu. Saking nesunya sampai membuat pelesetan HPN. Nesu itu kalau di-translate ke Bahasa Indonesia sama dengan marah. Lantas apa pemicunya? Beberapa hari terakhir beberapa media mainstream gencar memberitakan remisi yang didapat I Nyoman Susrama. Siapa Susrama?

Pria itulah yang menjadi otak pembunuhan rekan seprofesi kami, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, pada 2009. Insan pers menangis. Semakin mengelus dada ketika pembunuh dari rekan kami tahun ini dapat remisi. Dari hukuman seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Tahun depan, mungkin dapat remisi lagi. Dapat potongan masa hukuman. Setelah menjalani dua pertiga masa kurungan malah bebas bersyarat. Maknyus!

Wajar saja rekan-rekan mengambil momentum. Yakni, sehari sebelum peringatan HPN ramai-ramai membuat status pelesetan kepanjangan HPN. Ketika saya berselancar di media sosial (medsos), ada beberapa rekan jurnalis menulis status yang sama. Teman-teman, termasuk saya, juga menyisipkan gambar. Gambar yang dilengkapi infografis tersebut dilengkapi judul. Yakni, Mereka Dibunuh karena Berita. Ada sembilan foto jurnalis yang dibunuh dan hilang. Salah seorang di antaranya A.A. Prabangsa.

Ada pesan yang ingin disampaikan. Mulai dari bentuk keprihatinan. Protes ke pemerintah. Sampai jengah dengan segala bentuk kekerasan kepada insan pers.

Sama seperti prajurit TNI, wartawan juga punya jiwa korsa senasib sepenanggungan. Tanpa disuruh, jiwa kami terpanggil jika ada rekan dari berbagai daerah di nusantara mengalami kekerasan pers. Ada pula message lain. Yakni, menjalani profesi jurnalis itu tidak gampang. Ada risiko pekerjaan yang harus ditanggung. Termasuk, nyawa yang hilang. Contohnya ada, sembilan rekan jurnalis dibunuh sejak dua dekade terakhir.

Dalam perkembangannya, jumlah jurnalis bukan semakin sedikit. Malah semakin menjamur di setiap daerah. Selama satu dekade terakhir banyak sekali media massa baru beroperasi. Mulai dari cetak, televisi, radio, hingga online. Fenomena ini menarik. Tapi berbahaya kalau tidak dikontrol. Saya saja sampai tidak hafal nama-nama wartawan anyar di kota dan Kabupaten Madiun. Karena ketika pertama kali bertugas di Kota Madiun tahun 2008, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

Saya ikut bahagia ada banyak wartawan baru di Madiun Raya. Namun, harus diingat. Ketika terikat tugas profesi, harus siap dengan sebuah konsekuensi. Sederhana bentuknya. Selalu berkarya, berkarya, dan berkarya! Kalau ingin karyanya bagus, bagi wartawan tulis harus juga rajin membaca, membaca, dan membaca. Simpel!

Kalau tidak punya karya, apa ya pantas menyebut dirinya pewarta. Banyak istilah yang beredar. Mulai dari wartawan abal-abal, bodrek, atau wartawan tanpa surat kabar. Terkadang, bagi pewarta yang benar-benar pewarta juga risih. Semua kembali ke pribadi masing-masing. Jangan sampai label jelek itu melekat kepada diri kita. Amin.

Terlepas dari problematika itu, ada fenomena menarik pasca semakin dominannya media sosial (medsos). Yakni, banyak yang berlomba-lomba berperan seperti pewarta. Mungkin, mereka tertarik menjadi wartawan ya, wkwkwk.

Saya beri contoh, ketika ada peristiwa bus terguling di ring road Kota Madiun, dua pekan lalu. Warga yang datang ke TKP langsung berlomba mengambil rekaman video. Selain itu, ada yang jepret dengan gawai miliknya. Mereka seoalah tak mempedulikan adanya korban yang butuh pertolongan. Sejurus kemudian, jari jemarinya aktif menuliskan status. Seolah merekalah yang kali pertama di TKP. Foto dan video sadis berdarah-darah di-share begitu saja. Selanjutnya, mereka menulis caption seadanya.

Tanpa konfirmasi maupun mendapatkan informasi valid, langsung diunggah. Walhasil, ada netizen yang menulis terdapat korban meninggal dunia (MD). Ada pula yang menulis caption MD satu orang. Parahnya, informasi yang salah itu dibagikan netizen lainnya. Walhasil, jagat maya langsung geger.

Dunia digital sekarang memang susah dibendung. Imbasnya semakin banyak hoaks berseliweran. Sebenarnya, ini menjadi tugas dari jurnalis. Selain menjalankan fungsi kontrol, juga memberi edukasi. Wartawan yang terikat UU Pers dan kode etik melalui medianya masing-masing bisa membuat rumah penjernih informasi (clearing house of information).

Saya ucapkan selamat HPN 2019 untuk rekan-rekan jurnalis. Baik di Madiun Raya maupun di Indonesia. Jaga terus marwah sebagai jurnalis. Terus berkarya. Jaga selalu etika dan bermartabat! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here