MadiunPendidikan

Hari Pertama Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

LOW VISION OBATI KANGEN, TUNAGRAHITA GEMBIRA

JIKA semua memahami bahasa anak berkebutuhan khusus (ABK), siapa pun akan mendengar dan merasakan kegembiraan mereka di hari pertama uji coba pembelajaran tatap muka Selasa (18/8).

NUR WACHID, Jawa Pos Radar Madiun

ALEXA Sander Bernesa Putra, siswa tunagrahita kelas VI, dengan terbata-bata menjelaskan cara melawan virus Covid-19. ‘’Pakai masker, cuci tangan dengan air dan sabun. Jangan ke mana-mana,’’ katanya.

Sederet protokol kesehatan itu diterapkan Alexa bersama 11 siswa lainnya saat memasuki area Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Manisrejo, Kota Madiun. Masing-masing dari mereka juga mengenakan face shield dan tempat duduknya disilang dengan jarak 1-1,5 meter. ‘’Korona itu virus. Tidak takut,’’ lanjutnya.

Febriyan juga terlihat bahagia. Selama ini, siswa dengan keterbatasan penglihatan itu mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari pangkalan tambal ban di depan SMAN 6 Kota Madiun. Membantu ibunya mengais rezeki bersama Hermansyah, adiknya yang juga siswa SLBN Manisrejo. ‘’Akhirnya kangen sekolah terobati,’’ ungkap siswa kelas VIII itu.

Febriyan mendekatkan pandangan ke buku tulis untuk menuliskan kalimat yang disampaikan guru. Face shield yang dikenakannya seolah menutupi pandangannya yang terbatas. Namun, siswa yang duduk di deretan paling depan itu tetap menikmati pelajaran tatap muka perdananya setelah ditangguhkan enam bulan. ‘’Hari ini belajar PKn dan matematika,’’ sambungnya.

Safinatus Salsabila, siswa tunarungu di kelas I, berbicara menggunakan bahasa isyarat dan diterjemahkan guru. Dia senang dan tidak perlu lagi repot menyimak setiap instruksi guru di WhatsApp Group (WAG) Tuna Rungu Bisa. Pun, bisa bertanya langsung setiap menemui kesulitan mata pelajaran. ‘’Senang bisa belajar bareng lagi sama teman-teman,’’ katanya.

Dipilih 32 Anak Mandiri, Sehari Masuk 16 Siswa

ANAK berkebutuhan khusus (ABK) butuh perlakuan khusus. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi setiap guru di masa uji coba pembelajaran tatap muka. Selain harus mendampingi satu per satu siswa sesuai latar kebutuhan khususnya, guru juga harus memperhatikan protokol kesehatan. Sabar mengingatkan ketika ada yang tidak sengaja melanggarnya. ‘’Perlakuan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing,’’ kata Indarwati, guru kelas VI SLBN Manisrejo.

Di SLBN Manisrejo, uji coba pembelajaran tatap muka hanya diikuti 32 dari total 70 siswa. Mulai tunagrahita, tunarungu wicara, hingga low vision (keterbatasan penglihatan). Untuk siswa tunanetra, tunadaksa, dan autis untuk sementara tidak diikutkan uji coba. ‘’Kami memilih siswa yang dianggap bisa mandiri dalam menerapkan protokol kesehatan,’’ lanjutnya.

Kepala SLBN Manisrejo Siswanto menerangkan, seluruh siswa dalam uji coba pembelajaran tatap muka masuk bergiliran. Per harinya diikuti 16 siswa. Di sisi lain, sekolah tetap memberikan materi pembelajaran dan tugas sekolah secara daring via WhatsApp Group (WAG).  ‘’Yang masuk hari ini (kemarin, Red) 13 siswa, seharusnya 16. Tiga berhalangan. Hari ini masuk diberikan tugas, besok dikerjakan di rumah. Besok (hari ini) giliran 16 siswa sisanya yang masuk. Begitu seterusnya,’’ terang Siswanto.

Sebelum memulai pembelajaran tatap muka, orang tua dari 32 siswa telah dikumpulkan. Seluruhnya telah memberikan persetujuan. Dengan catatan, waktu pembelajaran maksimal tiga jam. Mulai pukul 07.30 hingga 10.30. Tidak ada jam istirahat dan kantin tutup. Orang tua wajib antar jemput namun tidak diperbolehkan masuk ke dalam kelas guna menghindari kerumunan. ”Kami harapkan tidak ada yang terlambat antar-jemput,” pintanya.

Dua Pekan Dievaluasi

DINAS Pendidikan (Dindik) Jatim memberikan perhatian khusus di hari pertama uji coba pembelajaran tatap muka di SLBN Manisrejo kemarin. Sekolah itu termasuk 23 dari 38 SLBN yang menerapkan uji coba di Jawa Timur. ‘’Pelaksanaannya sudah memenuhi syarat,’’ kata Kabid Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Dindik Jatim Suhartono.

Dia memastikan setiap SLBN yang melangsungkan uji coba pembelajaran tatap muka telah memenuhi empat syarat. Pertama, mendapat rekomendasi dari satuan tugas atau gugus tugas di masing-masing daerah. Kedua, mendapat restu dari pemerintah daerah setempat. Ketiga, mengantongi izin dari orang tua. Keempat, pelaksanaannya memperhatikan protokol kesehatan. ‘’Ketentuan ini berlaku bagi daerah dengan zona hijau, kuning, dan oranye. Zona merah tidak diperkenankan,’’ tegasnya.

Uji coba pembelajaran tatap muka ini sangat penting. Terlebih bagi jenjang SLBN yang anak didiknya memerlukan perlakuan khusus. Sementara PJJ banyak kendala. Mulai fasilitas anak di lingkungan yang cenderung heterogen hingga pengaruh penggunaan internet secara berlebihan. Karenanya, uji coba ini diharapkan memenuhi hak untuk mendapatkan pendidikan layak. ‘’Tidak serta merta tatap muka ini diterapkan seterusnya. Nanti tetap ada evaluasi,’’ ungkapnya.

Uji coba tatap muka berlangsung dua pekan. Setelah dievaluasi tak ditemui kendala berarti, akan diteruskan dengan mengadaptasi kebiasaan baru (AKB). Jumlah sekolah pelaksananya pun dimungkinkan bertambah. ‘’Kita harapkan uji coba ini tidak memunculkan klaster baru sehingga layanan pendidikan pada ABK bisa terus terlayani,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close