Hari Pertama Rekayasa Lalin Banyak Pengendara Kebingungan

60
BUTUH ADAPTASI: Sejumlah pengendara kecele dengan penerapan rekayasa di hari pertama.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Hari pertama pemberlakuan rekayasa lalu lintas di jalan protokol Magetan diwarnai banyak pelanggaran. Pelanggaran itu terjadi di pertigaan barat RSUD dr Sayidiman Magetan. Tepat di pertigaan itu, dua jalur dari arah timur berakhir. Kendaraan dari arah timur harus berbelok ke kanan, namun masih saja ada pengguna jalan yang bablas.

Titik-titik pelanggaran lain terjadi di pertigaan Jalan Jambu. Pengendara yang seharusnya hanya boleh belok kanan menuju jalan A. Yani malah berbelok ke kiri. Padahal, ruas jalan itu arusnya dibalik. Dari semula dari timur ke barat dibalik menjadi dari barat ke timur. Pada pertigaan bank BRI, juga terjadi kebingungan pengendara. Pengendara yang menuju alun-alun ada yang berputar ke timur bundaran terlebih dahulu. Ada pula yang langsung berbelok ke kanan. ‘’Masih belum terbiasa. Kan masih hari pertama,’’ kata Annisa Wulandari, seorang pengendara.

Annisa mengaku bingung dengan pemberlakuan arus lalin yang baru itu. Banyak ruas yang dijadikan satu arah, ada pula yang dibalik. Tak sedikit pula yang semula satu arah menjadi dua arah. Annisa mengaku butuh waktu untuk menghafal arus yang baru itu. Untuk saat ini, dia memang nyaman dengan arus lalin yang lama. Tapi, jika sudah sepekan-dua pekan, pasti akan mulai terbiasa. ‘’Cuma butuh terbiasa saja supaya hafal,’’ ujarnya.

Kadishub Magetan Joko Trihono mengatakan, masyarakat yang bingung dengan arus lalin yang baru bisa bertanya kepada petugas. Dia sudah menyiapkan personel untuk mengatur lalin di pertigaan dan perempatan yang kemungkinan besar terjadi pelanggaran. Tak apa, selama masa uji coba tidak akan ada penindakan dari pihak kepolisian. ‘’Salah jalan tidak apa-apa. Karena masih hari pertama,’’ katanya.

Bupati Magetan Suprawoto mengatakan, perubahan arus lalin itu bermula dari keluhan pedagang PBM. Pasar sepi jika hanya mengandalkan pembeli dari sekitar pasar. Sayangnya, wisatawan yang pulang dari Telaga Sarangan tak ada yang lewat PBM. Tak ada yang lewat tengah kota, melainkan lewat pinggiran. Dengan dibaliknya arus Jalan Pahlawan–Jalan Panglima Sudirman, Jalan A Yani–Jalan dr Sutomo–Jalan Diponegoro dari barat ke timur, diharapkan PBM bisa ramai pengunjung. ‘’Saya kan sebagai pengambil kebijakan, harus dengarkan keluhan semua masyarakat,’’ ujarnya.

Tak hanya berbelanja di PBM, wisatawan juga bisa menikmati belanja kerajinan khas Magetan berbahan kulit di Jalan Sawo. Memang butuh keberanian untuk mengeksekusi pengalihan arus itu. Banyak protes yang diterimanya sejak awal rencana itu dicanangkan. Namun, kebijakan yang diambilnya tak lain hanya untuk kepentingan masyarakat. ‘’Percayalah, saya ini tidak ada agenda lain,’’ ucapnya.

Pengalihan arus itu diharapkan bisa membuat macet perkotaan Magetan. Semakin macet, semakin ramai. Seperti yang terjadi di Bandung, Jogjakarta, hingga Bali. Masyarakat begitu menikmati kemacetan di sana. Warga luar kota dan pulau rela mendatanginya meskipun macet. ‘’Sebenarnya Magetan ini belum macet. Kenapa kok macet sedikit saja sudah ngresulo. Macet itu harus dimanfaatkan,’’ katanya. (bel/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here