Hari-Hari Dian Rifia yang Tak Pernah Jauh dari Kopi

170

Merintis usaha dari nol, Dian Rifia kini menjelma menjadi pebisnis kopi yang diperhitungkan. Selain sempat menyabet juara III festival kopi Jatim, dia pernah mengikuti pameran di Bangkok.

———————-

AROMA kopi menyeruak kuat saat menginjakkan kaki di sebuah kafe Jalan Ngebong, Banjarejo, Taman. Di balik meja barista, tangan Dian Rifia lincah mengambil beberapa biji kopi, kemudian dimasukkan mesin penggiling. Setelah mencium aroma yang pas, biji kopi yang sudah menjadi serbuk halus dituangkan ke cangkir.

Di atas cangkir terdapat puring berisikan paper filter. Dengan hati-hati, Dian mengangkat air yang sudah mendidih dari kompor elektrik. Lalu, dituangkan secara memutar ke permukaan paper filter.

Metode serving kopi itu diperagakan Dian di hadapan beberapa barista anak didiknya. Tak lama berselang, mereka secara bergantian mempraktikkan ilmu yang baru saja diajarkan Dian. Termasuk cara menyajikan di meja konsumen. ‘’Sampai sekarang sudah 13 orang yang belajar sama saya,’’ ungkapnya.

Tidak sekadar menggali ilmu meracik kopi, sejumlah anak didiknya sempat menjajal event dan berhasil membawa pulang piala. Festival kopi yang dihelat Dewan Kesenian Jawa Timur pada November 2018 lalu, misalnya, anak asuhnya berhasil menyabet juara III.

Dian sendiri pada 2017 lalu berkesempatan menghadiri ajang Wonderful Indonesia di Bangkok. Kala itu, bapak satu anak ini mengusung kopi robusta Wilis. Tahun berikutnya giliran menyabet juara III festival kopi kategori Business Challenge yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. ‘’Dari situ orang semakin mengenal produk kopi Madiun,’’ bebernya.

Kedai kopinya pun jadi jujukan wisatawan lokal dan manca. Mulai pelancong dari Singapura, Thailand, hingga Amerika Serikat. ‘’Rata-rata mereka tahunya dari  Google map,’’ ungkap pria 43 tahun itu.

Dian memulai bisnis kopinya dari nol. Delapan tahun silam kali pertama membuka kedai sederhana di belakang kampus Unipma dengan modal hanya Rp 150.000. ‘’Waktu itu cuma punya alat tumbuk sederhana. Setelah itu, nabung sedikit demi sedikit untuk beli alat-alat lain,’’ paparnya.

Sembari melengkapi peranti di kedainya, Dian terus mengasah skill me-roasting kopi agar rasanya pas di lidah. Belajar dari internet dan teman dilakoni. Puluhan kilogram kopi  pun habis untuk bereksperimen. ‘’Rasa kopi yang pas itu 75 persen dipengaruhi faktor roasting. Itu belajarnya bertahun-tahun,’’ ungkapnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here