Madiun

Hari Aksara Sedunia di Tengah Pandemi Korona

Pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 menjadi tema Hari Aksara Sedunia. Satu pekan sebelum diperingati 8 September 2020 ini, Jawa Pos Radar Madiun bersama Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Kota Madiun melakukan survei tentang tingkat pemahaman membaca siswa SMP dan SMA sederajat.

………….

ANGKET disebar IGI Cabang Kota Madiun ke 577 responden siswa SMP dan SMA. Angket berisikan sepuluh pertanyaan seputar kemampuan dan pemahaman membaca itu dikirimkan melalui Google Doc yang dapat diakses dan diisi secara online.

Ketua IGI Cabang Kota Madiun Bayu Bramasta Giri menuturkan, setiap pertanyaan disediakan tiga pilihan jawaban. Ya, sedang, atau kesulitan. Siswa memilih satu jawaban sesuai pertanyaan dan kemampuan. Survei memiliki margin of error kurang dari dua persen. Artinya, terdapat 5-8 responden yang menjawab lebih dari satu jawaban. ‘’Jadi, siswa tinggal memilih sesuai dengan apa yang mereka alami saat membaca berdasarkan pertanyaan yang tertera,’’ jelasnya.

Dari tiap pertanyaan, hasil survei menunjukkan siswa banyak yang memilih jawaban sedang. Semisal dari pertanyaan: saya memiliki kemampuan memahami teks buku pelajaran (bahan bacaan lainnya) yang saya baca. Dari 319 responden (55,3 persen) mengaku memiliki kemampuan sedang. Sedangkan 254 responden (44 persen) memilih jawaban ya, dan 12 responden (2,1 persen) mengalami kesulitan. ‘’Hampir semua pertanyaan memilih jawaban sedang,’’ ujarnya.

Survei juga menunjukkan mayoritas siswa harus membaca lebih dari satu kali untuk dapat memahami isi bacaan. Pertanyaan saya bisa memahami isi bacaan tanpa harus mengulang membaca hingga dua atau tiga kali. Siswa yang menjawab ya hanya 86 responden atau 14,9 persen. Siswa menjawab sedang 449 responden (77,8 persen). Sedangkan yang kesulitan sebanyak 50 responden (8,7 persen).

Kemampuan tersebut berkolerasi dengan daya ingat, nalar, dan kemampuan menganalisis. Siswa yang mengaku berkemampuan sedang dalam mengingat isi bacaan hingga satu minggu sebanyak 402 responden (69,7 persen). Sementara yang kesulitan sebanyak 91 responden (15,8 persen). Sedangkan yang menjawab mudah sebanyak 94 responden (16,3 persen). ‘’Kenapa satu minggu, paling tidak sampai dengan pertemuan selanjutnya di mata pelajaran yang sama,’’ jelas Bayu.

Bekal kemampuan itu dibutuhkan untuk menguasai keterampilan menulis. Karena itu, hanya 245 responden (42,5 persen) yang dapat menulis kembali menggunakan bahasa sendiri isi dan maksud bacaan yang mereka baca. Siswa yang cukup kesulitan lebih banyak, yakni 311 responden (53,9 persen). Sedangkan yang kesulitan sebanyak 30 responden (5,2 persen). ‘’Ketika siswa memiliki kemampuan untuk mengingat, memahami, paling tidak mereka dapat menceritakan isi bacaan. Belum lagi menjelaskan ke dalam bentuk tulisan menggunakan bahasa mereka sendiri,’’ urainya.

Pada sisi lain, dari hasil survei menunjukkan banyak siswa yang penasaran jika belum memahami bacaan yang mereka baca. 74,4 persen atau 429 responden menyatakan penasaran. Di level sedang sebanyak 144 responden (25 persen). Sementara yang tidak memiliki rasa penasaran di angka 9 responden (1,6 persen). ‘’Jika fakta ini kita bawa ke lapangan, maka jumlah siswa yang berani bertanya itu sangat minim. Padahal masih penasaran atau belum memahami sepenuhnya. Ini problem bagi seluruh pendidik,’’ ungkapnya.

Menurut Bayu, banyak faktor yang melatarbelakanginya. Mulai hasil proses pembelajaran di jenjang sebelumnya, kebiasaan membaca bagi siswa, pembelajaran hanya fokus pada benar atau salah, evaluasi atau umpan balik kurang maksimal, kualitas kompetensi guru di tingkat dasar, serta pemilihan buku sebagai bahan ajar. ‘’Banyak yang masih menggunakan lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan ajar utama. Padahal LKS ini harus disesuaikan dengan kemampuan siswa yang beragam dan dibuat oleh guru sendiri,’’ bebernya.

Saat ini, guru juga dihadapkan tantangan baru berupa pembelajaran jarak jauh (PJJ). Di tengah pandemi ini, guru masih berproses menemukan formula jitu. Meskipun tidak sedikit guru yang menganggap PJJ hanya sebagai jalan memberikan tugas kepada siswa. Seharusnya, PJJ dapat dimanfaatkan sebagai ruang diskusi bagi siswa. ‘’Tingkat pemahaman ini berhubungan dengan konteks. Pengalaman dan analisis turut menentukan. Apa jadinya ketika siswa membaca tapi tidak paham apa yang mereka baca?’’ tuturnya.

Bayu menegaskan survei ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Semata menjadi bahan evaluasi bagi para pendidik untuk menentukan strategi pembelajaran terbaik. Bagaimanapun, upaya pemerintah telah maksimal dalam memberikan pendidikan yang layak kepada siswa di masa pandemi. ‘’Lebih kepada fungsi guru serta kebiasaan membaca. Perpustakaan daerah kenapa buka pagi sampai sore, padahal itu merupakan jam sekolah. Kenapa tidak sore saja, misalnya,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Semangat Literasi Termotivasi Drupari

PEMAHAMAN membaca berkolerasi dengan tingkat literasi. Merujuk riset United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagaimana dirilis Kemenkominfo, tingkat literasi Indonesia berada pada urutan kedua dari bawah. Artinya, minat baca secara nasional hanya 1: 1.000.

Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Madiun Supardi mengakui tingkat literasi di kalangan pelajar juga masih rendah. Jika merujuk riset UNESCO tersebut, tingkat literasi itu terkait erat dengan kemampuan memahami bacaan. Serta mengimplementasikan bacaan ke dalam kehidupan sehari-hari. ‘’Kemampuan literasi akan dapat menempatkan posisi seseorang,’’ kata Supardi.

Karena itu, program literasi yang dijalankan sekolah tidak sekadar membaca. Tapi mengarah pada tingkat pemahaman. Siswa dapat memahami teks dengan baik jika memiliki bekal pengalaman dan kemampuan analisis yang cukup. Pun, fondasi dasar baca tulis berhitung telah dikuasai. ‘’Harus dipahami bersama, pandemi ini bukan halangan untuk memberikan layanan pendidikan optimal kepada siswa,’’ ujarnya.

Supardi memastikan guru siap menerapkan PJJ secara maksimal. Sebab, mereka telah dibekali pelatihan intensif. Cabdindik terus menyuntikkan semangat agar guru tidak berhenti belajar dan berinovasi. Senantiasa menciptakan terobosan melalui PJJ untuk menyiapkan siswa dalam menghadapi tantangan ke depan. ‘’Kendalanya justru di daerah yang sinyalnya belum merata,’’ ungkapnya.

Terkait problem sinyal, pemerintah bersiap memberikan bantuan paket data. Di Ngawi bakal dijatah 21 ribu kartu perdana, sementara Kota dan Kabupaten Madiun masing-masingnya 28 ribu kartu perdana. Bantuan diberikan satu dua hari ini. ‘’Ini untuk mengatasi permasalahan kesulitan kuota dan daerah yang tidak terjangkau internet,’’ bebernya.

Kabid Pendidikan Dasar (Pendas) Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun Slamet Hariyadi mengungkapkan, literasi menjadi perhatian khusus untuk jenjang SD dan SMP. Literasi menjadi salah satu dari lima budaya mutu atau indikator kinerja sekolah. Selain penerapan pembelajaran, UKS, perpustakaan, dan ekstrakurikuler. ‘’Literasi juga diimplementasikan ke dalam pembelajaran,’’ katanya.

Sejak sebelum pandemi hingga kini, siswa diwajibkan membaca buku bacaan sebelum guru memulai pembelajaran. Contohnya, siswa diwajibkan membaca koran atau buku bacaan terkait materi yang akan dipelajari. ‘’Waktunya bisa 20-30 menit,’’ terangnya.

Formula itu cukup membawa hasil. Buktinya, SDN 2 Mojorejo tiga tahun berturut mendapat penghargaan dan ditetapkan sebagai sekolah tingkat literasi terbaik nasional. Melalui penerapan metode Dongeng Pagi Hari (Drupari). Sekolah yang telah diapresiasi Kemendikbud itu diharapkan dapat memantik prestasi sekolah lain. ‘’Nah, untuk bisa mendongeng, mau tidak mau siswa harus membaca. Formula ini cukup berhasil dan menularkan virus positif bagi sekolah lain termasuk TK,’’ ungkapnya.

Langkah lain memberikan bimbingan berkala terhadap guru tentang pemahaman literasi. Literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia. Guru mata pelajaran lain juga harus paham literasi. ‘’Paling tidak Kota Madiun sudah menunjukkan prestasi membanggakan di level nasional dan internasional,’’ ucapnya. (kid/c1/fin)

Sejak Dibuka Lagi, Perpustakaan Tak Pernah Sepi

MINAT baca masyarakat perkotaan semakin tinggi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun mencatat tingkat kunjungan mengalami peningkatan setiap tahun. Pada 2018 tercatat 61.611 pengunjung, 2019 sebanyak 81.284 pengunjung, dan hingga Juli tahun ini telah tercatat 126.076 pengunjung. ‘’Rata-rata 200 pengunjung sehari. Didominasi pelajar dan mahasiswa,’’ kata Didik Hariyono, sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun.

Signifikansi peningkatan pengunjung perpustakaan di Kota Madiun ini berbanding terbalik dengan rendahnya minat baca di Indonesia. Di mana, minat bacanya menduduki peringkat 60 dari 61 negara berdasar riset World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University. ‘’Rendahnya minat baca secara nasional ini disikapi dengan menggiatkan literasi di kalangan masyarakat,’’ tuturnya.

Sejak pandemi melanda negeri awal Maret lalu, pungunjung perpustakaan turun drastis. Pun, sempat tutup hingga buka kembali pada Juli. Kini, peminjaman buku dibatasi sekitar 50 pengunjung per hari. ‘’Peminjaman kami layani secara online. Pengembaliannya cukup ditaruh boks di depan perpustakaan. Untuk sementara, pengunjung tidak diperkenankan baca di tempat,’’ terang Didik.

Pemkot terus memperkaya bahan bacaan. Setiap kelurahan kini telah memiliki perpustakaan. Bahkan, tujuh di antaranya telah memiliki pojok baca. Di era teknologi informasi ini, kecakapan literasi digital harus dikuasai dengan baik agar tidak memproduksi informasi yang rentan disalahpahami. ‘’Kami pun telah merilis perpustakaan digital sejak dua tahun lalu,’’ ungkapnya. (mg3/c1/fin)

Belajar Tak Mudah Siswa Kelas Rendah

SISWA kelas rendah (kelas I-III SD) merasakan iklim pembelajaran tak mudah di masa pandemi ini. Anak-anak yang baru mentas TK itu dituntut menguasai materi baca, tulis, dan hitung (calistung) di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ). ‘’Memang ada sedikit kendala saat PJJ. Karena tidak semua orang tua bisa dan sempat mendampingi anaknya belajar membaca dan menulis,’’ kata Kabid Pendas Dindik Kota Madiun Slamet Hariyadi.

Kendati demikian, dindik berkomitmen bakal menuntaskan materi calistung bagi seluruh siswa kelas rendah. Setiap guru kelas, khususnya I SD, harus berkoordinasi dengan orang tua agar tetap bisa mengajarkan calistung. Beberapa guru juga menjadwalkan pelajaran menghafal huruf lewat video call. Secara bergantian, murid berkesempatan bersitatap lewat telepon genggam kurang lebih 20 menit. ‘’PJJ ini kendalanya pada pelafalan huruf yang benar. Kalau menuliskan, sudah dibagikan lembar tugas,’’ jelasnya.

Dindik juga bakal merelaksasi kurikulum kelas I selama pandemi. Siswa kelas I SD tidak dituntut apa pun, kecuali kemampuan pelafalan dan penulisan huruf dengan benar. Slamet berharap guru tidak mengeluh dan tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa di masa korona. ‘’Bagi siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dan tak memiliki gadget, kami beri kesempatan tatap muka dengan mematuhi protokol kesehatan,’’ pungkasnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close