Harga Jeblok, Petani Cabai Dibayangi Rugi

107

NGAWI – Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan tersebut cocok untuk menggambarkan kondisi petani cabai di Kecamatan Jogorogo saat ini. Saat tanaman tak bisa tumbuh maksimal akibat curah hujan tinggi, harga malah terjun bebas. ‘’Tekor, modal kembali saja sulit,’’ kata Purwanto, salah seorang petani lombok di Desa Ngrayudan, kemarin (6/2).

Purwanto menanam cabai jenis tampar. Sayang, hasil panen kali ini seolah menamparnya. Harga komoditas itu hanya Rp 5 ribu per kilogram. ‘’Sudah empat kali petik. Pertama masih Rp 8 ribu, setelah itu jadi Rp 5 ribu,’’ ujarnya.

Dia mengaku menghabiskan duit Rp 75 juta dari hasil utang bank untuk menanam cabai kali ini. Namun, harga jual di pasaran yang jeblok membuatnya dibayangi kerugian. ‘’Modal Rp 75 juta itu belum termasuk untuk membayar tenaga pemetik, sehari Rp 50 ribu,’’ tuturnya sembari menyebut baru kali ini harga jual lombok tamparan di pasaran kelewat rendah.

Purwanto menambahkan, tanaman cabai juga tidak tumbuh maksimal lantaran curah hujan yang tinggi. Tak sedikit lomboknya yang mati akibat hujan deras. ‘’Ajur. Sudah banyak yang mati, masih ditambah harga yang seperti ini (rendah, Red),’’ ucapnya.

Apa penyebab jebloknya harga lombok? Purwanto tidak tahu-menahu. Pun, dia berharap harga bisa normal kembali. ‘’Idealnya harga jual Rp 15 ribu per kilo,’’ sebutnya. (mg8/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here