Hanya Sempat Tidur Sejam sebelum Berkompetisi

109

DI tengah riuh suasana halaman Suncity pagi itu, Ari Swandana tampak selonjoran di tepi panggung dengan keringat membasahi tubuhnya. Dengan napas masih terdengar ngos-ngosan, dia lantas meneguk air putih yang disediakan panitia. Sejurus kemudian, bercakap santai dengan sejumlah rekannya yang baru saja tiba melintasi karpet biru garis finis KMFR 2018.

Tibalah waktunya pengumuman, Ari pasang telinga baik-baik. Sontak dia berdiri, lalu bergegas ke panggung saat namanya disebut sebagi juara I kategori umum putra. Senyum pria itu kian mengembang ketika menerima hadiah secara simbolis. ‘’Ini kedua kalinya dapat juara kompetisi lari 5K di Madiun,’’ kata Ari.

Warga Jalan Brantas, Dengok, Padangan, Bojonegoro, itu tidak menyangka berhasil menjadi yang tercepat menyentuh garis finis dengan catatan waktu 18 menit 4 detik. Pasalnya, Sabtu malam (8/12) baru saja mengikuti kejuaraan lari di Gresik, juga sejauh 5 kilometer. ‘’Dari Gresik langsung ke Madiun naik bus. Cuma sempat tidur sejam,’’ ujarnya.

Ari menekuni lari sejak SMP. Bermula dari dorongan salah seorang guru agar mengikuti kompetisi running. Dia tertarik lantaran iming-iming hadiah Rp 10 juta seperti disebut sang guru. ‘’Guru yang mendaftarkan saya. Ternyata hadiahnya bukan Rp 10 juta, tapi Rp 1 juta,’’ kenang runner yang memiliki catatan waktu terbaik 15 menit 14 detik di nomor 5K ini.

Sejumlah kejuaraan pernah dijajal Ari. Paling mentereng adalah SEA Games 2009. Kala itu dia turun di nomor full marathon 42 kilometer. Sayang, pria 32 tahun tersebut gagal mempersembahkan medali bagi kontingen Indonesia karena hanya finis di urutan keempat.

Latihan rutin menjadi kunci kesuksesannya. Hampir setiap pagi dan sore dimanfaatkan untuk berlatih. Lokasi latihan paling sering di lapangan Nglaju, Cepu, tak jauh dari rumahnya. ‘’Sebelum nikah, saya di Salatiga. Kalau di sana, latihannya di lapangan Kridanggo,’’ ungkapnya sembari menyebut di Salatiga bergabung klub Locomotive bersama Triyaningsih, atlet nasional yang dikenal dengan julukan ratu lari jarak jauh Asia Tenggara.

Pola latihan Ari menyesuaikan jenis kompetisi. Jika hendak turun di 5K, dia biasa berlatih lari tujuh kilometer selama 45 menit. Durasi dan jarak dipastikan lebih panjang saat hendak terjun di maraton. ‘’Juga menghindari makanan pedas dan es. Tapi, kalau tubuh tidak fit, nggak memaksakan diri,’’ ungkapnya. ***(dila rahmatika/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here