Hanya Keturunan Ketiga yang Boleh Dijual

192

MADIUN – Merak hasil penangkaran Surat Wiyoto di Desa Tawangrejo, Gemarang dapat diperjualbelikan. Hanya saja, keturunan ketiga burung bernama latin Pavo Muticus yang dapat dikomersilkan. Hal itu dinilai sudah sesuai regulasi yang sudah ditetapkan. ‘’F3 atau keturunan ketiga atau boleh disebut cucu dari sepasang merak yang dikawinkan yang dapat dijual,’’ Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi jatim di Madiun Sihono.

Sihono mengatakan sudah memberikan berbagai macam pengawasan. Termasuk, satwa yang diperjual belikan Surat Siyoto. Menurutnya, yang dilakukan Surat sudah tepat. Sebab, merak dari garis keturunan yang sama tidak diperbolehkan untuk dikawinkan, lantaran keturunanya dipastikan cacat. Misalnya inbreeding. Hingga kaki merak didapati bengkok. Untuk itu harus ada pelabelan setiap satwa. ‘’Harus jelas ini keturunan dari yang mana, kalau sama jelas tidak boleh dikawinkan,’’ ungkapnya.

Menurutnya sepak terjang Surat yang sejak 1998 menangkarkan merak sudah kaya akan asam garam di dunia penangkaran merak hijau. ‘’Selain itu memang harganya fantastis, mencapai Rp 27 juta sepasang,’’ ungkapnya.

Menurutnya meski merak hijau kategori sebagai hewan langka dan dilindungi, tapi bukan berarti tidak dapat dijual. Asalkan taat pada peraturan tentang keturunan yang mana yang boleh di kembangkan. Selain itu, perijinan yang dimiliki harus lengkap. Mulai ijin penangkaran secara pribadi, pun sekarang sudah dibuat berbadan hukum. ‘’Juga harus ada ijin edarnya, dan Pak Surat sudah memiliki semuanya,’’ tegasnya.

Kata dia, pengelolaan satwa itu termasuk pada pemisahan antar keturunan agar tidak terjadi inbreeding. Selain itu, pakan dan kandangnya harus diperhatikan.  Dulu, kandang untuk satwa itu belum dibedakan. Selain itu, kandangnya pun sudah memiliki ruang inspeksi. ‘’Dulu kita mau mendekat tidak bisa, karena belum ada lorong untuk melihat – lihat,’’ katanya.

Dia mengungkapkan jika Surat memang memiliki keterbatasan SDM untuk membantu mengurus merak hijau itu. Sehingga, belum bisa maksimal meski sudah professional dalam mengelola satwa yang dipelihara sejak 20 tahun silam.  ‘’Meraknya ada 28 ekor, dan dikelola oleh satu orang saja memang kurang,’’ ungkapnya. (fat/pra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here