Madiun

Hanya Berijazah STM, Suyitno Kini Jabat Manajer PLN

Di balik kesuksesan Suyitno terselip cerita panjang tentang tetesan keringat dan air mata penderitaan. Juli lalu, pria itu ditunjuk menjadi manajer PLN UPT Madiun, membawahi 200 karyawan. Bagaimana perjuangannya?

============

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BUNYI jeruji sepeda pancal terdengar menderik saat Suyitno memasuki kompleks kantornya. Ketika hendak melewati gerbang, tiga petugas keamanan cepat-cepat keluar dari posnya. Lantas berdiri seraya membungkuk dan memberikan ucapan selamat datang. Suyitno membalas dengan senyum sembari melambaikan tangan kanannya.

Suyitno kemudian memarkir sepeda kesayangannya di dekat mobil dan motor karyawan yang berjajar rapi. Di pintu masuk kantor, dia disambut seorang perempuan mengenakan seragam sekuriti. Kembali senyumnya mengembang sambil melangkah menuju ruangannya. ‘’Biasa, sebelum mulai aktivitas di kantor, kami berkumpul terlebih dahulu,’’ kata Suyitno.

Suyitno terbilang sosok ’’langka’’ di kantornya. Salah seorang manajer PLN UPT Madiun itu hanya lulusan STM (sekarang SMK). Pun, terlahir dari keluarga kurang mampu. ‘’Ceritanya panjang, saya harus ikut kakak saat masih SMP,’’ ujar anak buruh tani kelahiran Banyuwangi 1965 ini.

Kendala ekonomi memaksa Suyitno tinggal bersama kakaknya saat SMP. Sebelum berangkat sekolah, dia membantu membersihkan rumah dan memasak. Keseharian itu dilakoni hingga lulus dari jurusan listrik STM Negeri Banyuwangi 1984 silam.

Selepas STM, Suyitno memutuskan merantau ke Bali. Sebulan penuh dia berusaha melamar pekerjaan, namun selalu mendapatkan penolakan. ‘’Saya akhirnya balik ke Banyuwangi.  Lalu, ada tetangga yang mengabari kalau ada lowongan di PLN,’’ kenangnya.

Berbekal tekad kuat, Suyitno mencoba peruntungan mengikuti seleksi. Kebetulan ketika itu tetangganya pindah domisili ke Surabaya sehingga dia bisa menumpang sementara sembari menunggu panggilan seleksi. ‘’Lalu, melamar kerja lain di pabrik,’’ tuturnya.

Beberapa bulan berselang dia mendapatkan panggilan seleksi. Kesempatan itu tidak disia-siakannya. Keberuntungan berpihak kepadanya. Selama lima tahap seleksi dengan sistem gugur itu namanya selalu lolos. Memasuki awal 1985, Suyitno mendapat panggilan tes akhir, yakni wawancara. Hasilnya, dari total 2.500 peserta seleksi, dia dinyatakan lulus.

Kali pertama Suyitno ditugaskan sebagai operator gardu induk Lumajang hingga 1985. Dua tahun kemudian dia dimutasi sebagai staf pemeliharaan PLN Tragi Banyuwangi hingga 2001. ‘’Kemudian dipindah jadi staf renev (rencana dan evaluasi, Red) UPT Jember sampai 2012,’’ ujarnya.

Pada tahun itu pula dia diangkat menjadi supervisor pemeliharaan gardu induk di base camp Jember APP Probolinggo. Setahun berselang Suyitno dipercaya menjadi asisten manajer di tempat yang sama hingga 2018. ‘’Lalu, jadi manajer sub-bidang PDKB dan fashar UIT JBTB Surabaya,’’ sambungnya.

Juli lalu, Suyitno diangkat menjadi manajer PLN UPT Madiun, membawahi sekitar 200 karyawan. Cakupan wilayah kerjanya mulai Tuban hingga Trenggalek. ‘’Kuncinya tetap berintegritas, konsisten, terus belajar, dan terpenting amalan-amalan sesuai agama,’’ sebutnya.

Dalam memimpin, Suyitno selalu merangkul seluruh bawahannya. Pun, dia menganggap mereka sebagai teman. ‘’Sebanyak 80 persen karyawan di sini masih muda. Saya terus dorong untuk terus belajar dan belajar,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close