Hampir 10 Tahun Jaminah Tinggal di Tengah Kebun Jagung

282

Menahun Jaminah dan Yadin suaminya hidup jauh dari ingar bingar kota. Pasangan suami istri itu tinggal di sebuah rumah sederhana di area kebun jagung. Di tengah hidup serbakekurangan tersebut, dia harus merawat cucunya yang mengalami keterbelakangan mental.

———-

PEMANDANGAN hijau langsung tertangkap mata saat memasuki area kebun jagung sebelum Waduk Widas. Masuk ke dalam kawasan perkebunan itu –melalui jalan berlumpur- tampak sebuah rumah sederhana. Di rumah itulah Yadin dan Jaminah tinggal bersama seorang cucunya.

Kondisi rumah yang mereka tinggali jauh dari kata layak. Hanya berdinding kayu dan tripleks serta beratap seng. Sementara, lantainya masih berupa tanah. Kamarnya pun tidak nyaman untuk beristirahat. ‘’Kalau hujan bocor karena waktu memasang atap ada yang tidak pas, tapi suami saya ndak bisa membetulkan,’’ kata Jaminah.

Warga asli Nganjuk itu merupakan penggarap lahan tak seberapa luas tersebut. Sudah hampir 10 tahun mereka tinggal di tengah kebun jagung di tanah milik Perhutani tersebut. ‘’Di Nganjuk tak punya lahan garapan,’’ ujar Jaminah.

Sebulan sekali nenek 68 tahun itu pulang kampung ke Nganjuk untuk menengok kondisi rumahnya yang suwung ditinggal mengais rezeki di daerah tetangga. Anak- anaknya semuanya merantau.

Yang memprihatinkan lagi, Jaminah harus merawat Eko Waluyo cucunya yang mengalami keterbelakangan mental. Belum lagi remaja 14 tahun itu memiliki kebiasaan tak lazim. Eko tidak doyan minum air putih. Melainkan kopi instan. ‘’Sejak umur delapan tahun seperti itu (suka kopi instan, Red),’’ ungkapnya.

Sejatinya kedua orang tua Eko masih hidup. Namun, sudah sekian lama tidak bertemu lantaran keduanya merantau ke Kalimantan. Pun, remaja itu dulu sempat hendak diajak ke  sana. Namun, sang nenek tak mengizinkannya. ‘’Saya rawat di sini saja. Sejak lahir memang saya yang merawatnya,’’ kata Jaminah.

Jaminah merasa sedikit lega setelah belakangan ini cukup banyak donatur yang membantunya mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Maklum, hasil panen jagung yang didapat hanya pas-pasan, bahkan sering tak cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari. ***(fatihah fiqri/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here