Hama Tikus Teror Lahan Pertanian Tiga Kecamatan

111

MADIUN – Hama tikus terus memberangus ratusan hektare padi di Kabupaten Madiun. Hewan pengerat itu bisa menggagalkan panen di tiga kecamatan. Serangan padi saat masih berusia muda beberapa waktu lalu menjadi peringatan. ‘’Rata-rata masih berusia dua hingga empat minggu,’’ kata Sumanto, kabid Hortikultura Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun, kemarin (27/1).

Sumanto menyebut, tiga wilayah yang diserang adalah Pilangkenceng, Balerejo, dan Saradan. Luasannya mencapai 132 hektare. Kawanan tikus itu menyerang batang dan tunas batang padi. Meski gigitan itu sebetulnya hanya untuk mengasah ketajaman gigi, namun dikhawatirkan bisa mengganggu pertumbuhan. Bahkan berpotensi merusak lantaran kekuatan batang padi masih belum kuat. ‘’Kalau tidak segera dibasmi ya bisa mengancam panen,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Upaya mengantisipasi penyebaran tikus terlihat di persawahan Desa Garon, Balerejo. Para petani memagari setiap petak sawah dengan plastik. Penghalang setinggi sekitar 50 sentimeter itu mengelilingi seluruh area semai padi. Langkah itu salah satu metode yang dipakai ketika benih padi baru disebar di masa tanam pertama. Guna mencegah kehadiran tikus dari titik lain. Namun, selanjutnya harus berlanjut metode yang berbeda. ‘’Kalau untuk masa tanam berikutnya, metode yang diterapkan sudah berbeda. Karena tikus tergolong binatang cerdas,‘’ paparnya.

Sumanto mengakui serangan tikus tahun ini lebih intens ketimbang tahun lalu. Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi. Salah satunya menyesuaikan pola tanam petani. Mereka mencari makanan setelah lama tidak beraktivitas. Seperti masa tanam pertama setelah kemarau panjang saat ini. Periode selanjutnya, serangan tikus diyakini bakal berkurang. Selain ketersediaan makanan banyak, tikus mulai berkembang biak. Populasinya bisa bertambah dua ribu ekor dalam setahun. ‘’Bisa meningkat karena petani menggunakan pola tiga kali tanam padi. Seharusnya yang terakhir adalah palawija,’’ bebernya sembari menyebut alasan lain bahwa bisa jadi populasi ular sawah berkurang hingga merusak pola rantai makanan.

Karena siklus tersebut, disperta menyarankan gropyokan atau penangkapan sebelum tanam pertama. Keberadaan tikus yang jumlahnya banyak itu harus diminimalkan. Selanjutnya, menggunakan petrokum atau racun tikus dan belerang untuk membasminya. Mencegah serangan tidak berkelanjutan saat padi mulai menguning. Fase siap dipanen. Disperta menyiapkan 200 kardus mercon tikus, satu ton belerang, dan 150 petrokum. ‘’Dibagikan ke petani yang membutuhkan,’’ tutur Sumanto.

Dia menjelaskan bahwa serangan masif di Pilangkenceng, Saradan, dan Balerejo bukan berarti populasi tikus berkutat di sana. Itu terjadi karena petani wilayah tersebut lebih awal dalam menanam padi. ‘’Kalau wilayah selatan belum terdengar serangannya karena baru mulai tanam,’’ ujarnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here