Hama Tikus Serang 74 Hektare Sawah di Kedungrejo, Pilangkenceng

146

MADIUN – Hujan yang terlambat datang membuat masa tanam padi ikut terlambat. Mundurnya siklus tanam ini membuat hama tikus merajalela. Para petani di Kecamatan Pilangkenceng dibuat pusing karena harus melakukan pengendalian hama setiap harinya. ‘’Kalau tidak, padi yang berumur 40 hari ini tak bisa dipanen,’’ kata Suyatno, ketua Gapoktan Desa Kedungrejo, Kecamatan Pilangkenceng, Madiun.

Rata-rata petani, lanjut Suyatno, baru memulai tanam pada November. Seiring datangnya musim penghujan di pengujung tahun lalu. Setelah benih disemai dan berumur sebulan, hama tikus mulai mengganggu pertumbuhan. ‘’Sampai-sampai, kami harus gropyokan malam hari. Sempat sirna, tikus datang lagi setelah padi berumur 40 hari,’’ ujarnya.

Dari 222 hektare sawah di Kedungrejo, 74 hektare di antaranya terserang hama tikus. Kalkulasi ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi, sudah dua kali serangan. Beruntung, usia padi masih tergolong muda sehingga masih bisa disulami. ‘’Relatif bisa diselamatkan,’’ tuturnya.

Membasmi tikus sawah terbilang susah. Jika terlampau sering disemprot pestisida, justru meningkatkan kekebalan tikus. Mengandalkan jebakan listrik, justru semakin berbahaya. Jika sampai lalai, yang celaka tak hanya tikus, tapi juga pemberantasnya. ‘’Itu tidak direkomendasikan,’’ tegasnya.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun Edy Bintardjo menyatakan terus menyediakan bantuan belerang dan pestisida. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, bisa diambil ke kantor dinasnya. ‘’Hama tikus juga menyerang Saradan dan Balerejo,’’ katanya.

Akan lebih baik, pembasmian tikus dengan gropyokan. Cara itu tidak akan mengganggu keseimbangan ekosistem karena tidak akan meningkatkan populasi tikus yang sudah kebal pestisida. ‘’Sarang tikusnya juga bisa lebih cepat dideteksi sehingga bisa langsung dibasmi,’’ terangnya. (mg4/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here