Halal, USBN Gunakan Smartphone

93

PACITAN – Penggunaan smartphone sebagai peranti ujian dihalalkan. Itu setelah Cabdindik Jawa Timur Wilayah Pacitan mendapatkan surat resmi tentang pelaksanaan ujian sekolah berstandar nasional berbasis komputer dan smartphone (USBN BKS). ‘’Rencananya akan kami sosialisasikan 12 Februari nanti,’’ kata Kepala Cabdindik Jatim Wilayah Pacitan Yusuf kemarin (1/2).

Sosialisasi menyasar seluruh kepala SMA/SMK dan MA negeri maupun swasta. Hanya, pihaknya belum mengantongi lembaga yang bakal menerapkan USBN BKS tersebut. Hingga kini, masih mendata. Terutama sekolah dengan keterbatasan perangkat komputer. Sehingga, bakal menggunakan smartphone. ‘’Kemungkinan sekolah swasta ada,’’ ujarnya.

Yusuf menegaskan smartphone tak bakal menggeser komputer untuk peranti ujian. Sebab, sifatnya sekadar alternatif untuk mengurai keterbatasan perangkat komputer di sejumlah sekolah. Apalagi, telepon pintar tersebut juga meminjam siswa. ‘’Hanya meminjam jika komputer belum tercukupi. Itu pun cuma untuk USBN, kalau UNBK (ujian nasional berbasis komputer, Red) harus pakai komputer,’’ tegasnya.

Yusuf juga belum bisa membeber detail teknis penggunaan smartphone sebagai prasarana ujian. Gambaran umumnya, lanjut dia, peserta ujian mengunduh aplikasi dan memasang di telepon pintarnya. Dia memperkirakan penggunaan smartphone aman. Pasalnya, setiap penerapan kebijakan selalu didasari uji coba lebih dahulu. Itu pun dilakukan Dindik Jatim. ‘’Cuma (uji coba, Red) di sekolah mana saya belum tahu,’’ tuturnya.

Dia menyebut wacana penggunaan smartphone untuk perangkat ujian berawal dari Dindik Jatim. Kebijakan tersebut diambil sebagai strategis efisiensi agar pengerjaan ujian yang lama akibat kekurangan peranti komputer bisa teratasi. ‘’Tampaknya hanya di Jatim, karena program USBN BKS hanya ada di Jatim,’’ sebutnya.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri di Pacitan Adi Supratikto menambahkan, pihaknya membantu pendataan sekolah yang memiliki keterbatasan komputer untuk dialihkan ke smartphone. ‘’Perkiraan kami, beberapa di antaranya sekolah pinggiran,’’ ungkapnya.

Sebab, jelas dia, sekolah di wilayah kota sudah memiliki perangkat komputer yang cukup. Kebijakan Dindik Jatim tersebut dianggap membantu. Pasalnya, keterbatasan komputer bisa diatasi dengan telepon pintar. Salah satu syaratnya, ukuran layar minimal empat inci. ‘’Saya pikir anak-anak bisa menggunakannya. Sama seperti penggunaan komputer,’’ jelasnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here