Hak Pilih Melayang di Rumah Sakit

22

MADIUN – Seratusan hak pilih dalam Pemilu 2019 melayang di RSUD Dolopo dan RSUD Caruban. Suara yang gagal tersalurkan dalam coblosan kemarin (17/4) berasal dari pasien opname dan keluarganya. Petugas pemungutan suara (PPS) terdekat dari rumah sakit tersebut tidak bisa melayani lantaran mereka tidak mengantongi formulir A5 atau surat keterangan pindah memilih di tempat pemungutan suara (TPS) lain.

Direktur Utama (Dirut) RSUD Dolopo Purnomo Hadi mengungkap sedikitnya 100 orang yang sudah masuk daftar pemilih tetap (DPT) tinggal di rumah sakit sejak beberapa hari terakhir. Perinciannya, 65 pasien rawat inap dan 35 keluarga yang menemani hingga hari H pemilu. Hanya lima pasien yang mengantongi formulir A5 hingga berhak dilayani PPS untuk mencoblos di rumah sakit. ‘’Kami dampingi prosesnya,’’ ujarnya.

Sejatinya, jelas Purnomo, para pasien opname dan keluarganya sudah disarankan mengurus formulir A5. Tahapan tersebut juga telah disosialisasikan selama dua hari. Yakni Senin (15/4) dan sehari sebelum coblosan (16/4). Fakatnya, pada hari coblosan, yang sudah mengantongi surat pindah memilih dengan ketentuan tercoret namanya di TPS asal bisa dihitung jari tangan. ‘’Mau bagaimana lagi, kami sudah berusaha,’’ ungkapnya.

Coblosan lima pemilih kemarin difasilitasi PPS dari TPS 002, Dolopo, yang terdekat dengan rumah sakit pelat merah tersebut. Kelima pemilih terdiri empat orang asal daerah pilihan (dapil) III dan satu orang dari dapil IV. Proses pemungutan yang dimulai setelah pukul 12.00 itu menghadirkan tiga petugas PPS, dua petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS), dua saksi, panitia pengawas kecamatan (panwascam), dan perangkat desa.

Coblosan di tempat tidur itu tetap menjunjung asas rahasia. Pencoblosan nama yang dipilih pasien tetap ditutup bilik suara. Petugas membantu memegangi bilik hingga selesai pencoblosan. ‘’Saya bersyukur bisa nyoblos meski di rumah sakit,’’ kata Renaldo Sipalsuta, salah seorang pasien asal Desa Sareng, Geger.

Sementara Dirut RSUD Caruban Djoko Santoso menyebut hanya beberapa yang mengantongi A5 di rumah sakitnya. Dia tidak tahu pasti jumlah pasien dan keluarga yang dilayani PPS kemarin. ‘’Kebetulan saya sedang keliling memantau, jadi tidak tahu jumlahnya. Tapi, informasi satpam yang ikut mendampingi, pasien yang punya A5 sedikit sekali,’’ bebernya seraya menyebut sudah ada arahan ke pasien dan keluarga untuk mengurus surat keterangan pindah memilih.

Menurut Djoko, pasien dan keluarga yang tidak mengurus A5 kemungkinan tidak ingin repot wira-wiri. Mengingat dalam kondisinya sedang tidak sehat. ‘’Tapi, tidak tahu juga karena itu urusan pribadi,’’ ujarnya.

Terpisah, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Madiun mengklaim pemungutan suara kemarin aman terkendali. Hingga sore kemarin, tak ada temuan atau laporan kecurangan maupun pelanggaran. ‘’Semua sudah bekerja dengan baik, semoga tetap bersih sampai akhir,’’ kata Ketua Bawaslu Kabupaten Madiun Nur Anwar.

Pihaknya mengapresiasi kinerja kelompok petugas pemungutan suara (KPPS). Dia juga menyebut wilayah rawan money politics nihil laporan dan temuan. Pihaknya telah melakukan pengawasan hingga pencoblosan. ‘’Harapannya memang tidak ada sama sekali,’’ ucapnya.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Madiun Anwar Sholeh Azarkoni juga mengklaim pemungutan suara kondusif. Dia memperkirakan angka partisipasi pemilih mencapai 70 persen. Namun, dia menyebut memang masih ada masyarakat yang tidak memilih. Kabanyakan pasien rawat inap dan keluarganya di RSUD Dolopo dan RSUD Caruban.

Menurut dia, jika tidak ada permintaan formulir A5, pihaknya tidak bisa melayani pemilih yang hendak pindak TPS. Pihaknya sudah mendatangi rumah sakit, namun, tidak ada yang mengajukan formulir A5. ‘’Harus ada pengajuan dari pemilih yang ingin pindah TPS. Itu hak mereka,’’ pungkasnya. (cor/fat/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here