Gus Shoffa Rela Lepas Kesempatan Kuliah di Al-Azhar demi Kelola Pondok

77

MADIUN – Eksistensi Ponpes Al-Mujaddadiyah II tidak terlepas dari sosok Gus Shoffa. Berkat tangan dinginnya, pondok tersebut kini memiliki hampir 400 santri. Selain mengajarkan agama, ponpes itu membekali para santrinya ilmu kewirausahaan.

Duduk lesehan di serambi paseban pondok pesantren (ponpes), KH Mushoffa Izzudin terlihat sedang memberikan ceramah kepada pada santrinya. Menjelang petang, pengajian rutin sore itu pun berakhir. Ratusan santri seketika membubarkan diri.

Sementara, di serambi rumah, salah seorang tamu duduk menunggu kedatangan Gus Shoffa, sapaan akrab Mushoffa Izzudin. Setelah bertemu, keduanya dan terlibat pecakapan hangat. ‘’Sambil menunggu azan maghrib,’’ kata Gus Shoffa kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Gus Shoffa merupakan pengasuh Ponpes Al-Mujaddadiyah II. Tanggung jawab itu diembannya setelah mendiang Kiai Baihaki kakaknya meninggal pada 2005 silam. Dia tahun berselang, dia mendirikan pondok yang lokasinya satu kompleks dengan tempat tinggalnya. Persisnya di belakang Ponpes Al-Mujaddadiyah I di Jalan Setinggil, Demangan, Kota Madiun. ‘’Pembangunannya makan waktu tiga tahun,’’ ungkapnya.

Kepada para santrinya di Ponpes Al-Mujaddadiyah, Gus Shoffa lebih menitikberatkan pada pembelajaran dan pendalaman Alquran. Tiga tahun pertama santri ditargetkan hafal kitab suci. Kemudian, tiga tahun berikutnya difokuskan pada pendalaman ilmu tafsir. ‘’Jadi, tamat aliyah sedikit-sedikit sudah hafal dan bisa tafsir. Kemudian dapat mengambil beasiswa santri di perguruan tinggi negeri,’’ paparnya.

Gus Shoffa akrab dengan lingkungan ponpes sedari tamat MI. Berpindah-pindah pondok, namun yang paling lama di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. ‘’Saya senang tadaruz Alquran. Itulah yang mendasari saya mendirikan ponpes,’’ ujarnya.

Singkat cerita, pada 2004 dia mendapat tawaran menjadi dosen di IAIN  Purwokerto. Sayang, tidak mendapatkan restu kedua orang tuanya. Satu tahun kemudian, KH Baihaki kakaknya meninggal. Dia pun memilih menjalankan roda pondok pesantren. ‘’Dulu juga pernah dapat beasiswa di Al-Azhar (Mesir), tapi mau berangkat tidak diizinkan orang tua,’’ tuturnya.

Kali pertama berdiri, jumlah santri di ponpesnya hanya 13 orang. Namun, seiring waktu terus bertambah dan saat ini hampir 400, baik putra maupun putri. ‘’Saya coba membuat terobosan. Karena ponpes tidak akan maju tanpa bersinggungan langsung dengan masyarakat, saya mendirikan majelis taklim untuk masyarakat kota,’’ bebernya.

Dua tahun lalu, Gus Shoffa mendirikan dua majelis taklim sekaligus. Salah satunya dengan jamaah khusus pria yang diberi nama Al-Hikam. Dari situlah banyak bapak-bapak yang mengikuti pengajian tergerak menyekolahkan anaknya di ponpes. ‘’Pertemuan terakhir (majelis taklim) kemarin yang datang 700-an orang,’’ ujarnya.

Pertemuan majelis taklim itu awalnya hanya dilakukan di gubuk sebelah barat rumahnya. Lantaran semakin banyak jamaah yang bergabung, pernah suatu ketika ambruk. Gus Shoffa akhirnya memunculkan gagasan one day one thousand setiap mengaji.

Hasil dari sedekah itu dimanfaatkan untuk membangun paseban. Menggantikan gubuk bambu yang sebelumnya roboh. Kini, bangunan tersebut juga kerap dimanfaatkan untuk kegiatan para santri. ‘’Ternyata dari hal-hal yang kecil kalau diniatkan untuk kebaikan hasilnya luar biasa,’’ sebutnya.

Yang menarik, Gus Shoffa juga mengelola usaha demi keberlangsungan pondoknya. Di bidang pertanian dia membentuk sejumlah kelompok petani melon.  Hasil panen dipasarkan ke lapak miliknya di Jakarta. ‘’Kelompok tani melon ini tidak hanya di Madiun, di Ponorogo juga ada,’’ ungkapnya.

Gus Shoffa bersama para santrinya juga mengelola usaha penggemukan kambing dan konveksi. ‘’Seragam-seragam itu dikelola sendiri oleh santri. Ini membuat ponpes lebih mandiri,’’ pungkasnya. ***(dila rahmatika/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here