Pacitan

Gunung Parangan Terus Kirim Material Bebatuan

PACITAN – Gunung Parangan terus menggelontorkan ratusan kubik material bebatuan. Memasuki pertengahan musim hujan ini, banjir batu kiriman dari gunung di Desa Karangrejo, Arjosari, itu kembali mengancam. Terutama warga yang bermukim di Dusun Wonoasri, Karangrejo. Sebab, dusun ini merupakan tempat pertemuan antara Sungai Parangan dengan anak Sungai Grindulu. ‘’Kemarin waktu hujan deras air di sini (sungai, Red) tambah cokelat. Juga ada batu-batunya,’’ kata Ahmad Zaini, salah seorang warga setempat, kemarin (20/1).

Hujan deras yang mengguyur desanya beberapa hari terakhir kembali membuka trauma kejadian bencana akhir 2017 silam. Saat itu ratusan ton batu terbawa arus sungai dan menumpuk di jalur menuju Desa Karanggede, Arjosari. Beberapa hari terakhir, material batu kembali terseret air. Walaupun intensitasnya jauh lebih kecil. ‘’Kelihatannya ada yang menahan material longsor. Jadi, walaupun hujan deras airnya tak terlalu banyak,’’ duganya.

Ahmad menambahkan, saat ini kondisi Gunung Parangan krowak. Dari kejauhan tampak sebagian puncak gunung longsor dan gundul. Dia menduga material longsoran tersebut yang kini mengalir di desanya. Sehingga, membuat sungai mengalami pendangkalan lantaran tertutup material batu. ‘’Kalau dibilang sudah habis, kemungkinan belum. Bahkan, masih banyak,’’ sebutnya.

Dia memperkirakan saat ini kondisi hulu sungai di Gunung Parangan tertutup longsor. Sehingga, saat hujan, sungai layaknya bendungan. Itu juga diungkap beberapa warga setempat yang sempat menaiki atas bukit. Mereka khawatir jika hujan lebat kembali datang, material batu yang menahan bakal kembali terbawa arus. Seperti kejadian akhir 2017 dan tahun 2018 lalu. ‘’Saat itu sangat parah. Bebatuan besar terseret deras air hingga membuat jembatan putus dan jalan tertutup,’’ kenangnya.

Namun, di balik musibah itu juga membawa berkah. Sebab, warga setempat bisa mengumpulkan bebatuan tersebut dan menjualnya ke para pengepul. Meski hanya Rp 50 ribu per truk, namun mampu menghidupi mayoritas warga setempat. ‘’Kalau dulu sebelum banjir besar harganya bisa Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per truk. Tapi sekarang batu gampang dicari, jadi murah,’’ tuturnya. (mg6/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close