Gulat Sumbang Emas Perdana untuk Kabupaten Madiun

80
HASIL STAGNAN: Dua judoka Kabupaten Madiun Anwar dan Dinda memamerkan medali perunggu yang diraih Selasa (9/7).

MADIUN – Tambahan 13 medali dari tiga cabang olahraga (cabor) belum mampu mengentaskan posisi Kabupaten Madiun dari dasar klasemen sementara Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jawa Timur 2019. Masih bertahan di peringkat 32 dari 38 kota/kabupaten. Cabor gulat menyumbangkan satu medali emas dan empat perunggu kemarin petang (10/7). Sedangkan judo dan pencak silat meraih perunggu kemarin dan Selasa (9/7). Sebab, medali gold hanya bernilai empat poin dan bronze satu poin.

Supriedi, pelatih gulat Kabupaten Madiun, mengungkapkan medali emas diraih Juni Trian Marini dalam nomor bebas 57 kilogram gaya bebas putri. Atlet 18 tahun itu menang mutlak dari Kabupaten Malang di babak final dengan skor 10-0. Sedangkan empat perunggu dari masing-masing nomor grego 87 kilogram dan 50 kilogram putra. Juga gaya bebas 52 kilogram putra dan 50 kilogram putri. ‘’Kami hanya menurunkan nomor pertandingan kecil, Jadi, jadi per hari ini (kemarin, Red) perjuangan sudah selesai,’’ ujarnya dihubungi tadi malam.

Dia mengatakan, raihan delapan poin dari anak didiknya meleset dari target awal. Pihaknya awalnya memproyeksikan dua emas dari tujuh atlet yang dibawa. Namun, Rio Dwi saputra, salah seorang atlet yang digadang-gadang bisa menyabet emas mengalami cedera kaki pada pertandingan pembuka. Meski lolos babak penyisihan, pemuda 17 tahun itu hanya meraih medali perunggu. ‘’Terlepas insiden itu, perjuangan anak-anak sangat luar biasa,’’ ucapnya seraya menyebut capaian naik dibandingkan Porprov V 2015 di Banyuwangi yang hanya masuk empat besar.

Eko Jarwadi, pelatih judo Kabupaten Madiun, belum puas dengan capaian dua perunggu. Mengingat sejak awal menarget untuk memborong banyak medali. Setidaknya melampaui raihan satu emas, dua perak, dan satu perunggu Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim beberapa waktu lalu. Namun, jalannya laga berkata lain. Dari enam atlet dengan empat di antaranya fighter yang dibawa ke Bojonegoro, hanya dua yang menembus final. ‘’Empat lainnya terhenti di babak penyisihan dan semifinal,’’ ujarnya.

Eko menyebut raihan medali kali ini tergolong stagnan. Sebab, sama dengan hasil Porprov V. Penyebabnya bukan karena lawan tanding yang semakin kuat atau kurangnya persiapan anak didiknya. Melainkan perbedaan sarana dan prasarana dalam berduel. ‘’Anak-anak tidak terbiasa dengan jenis matrasnya,’’ kilahnya kepada Radar Caruban.

Anwar Rofani dkk selama ini berlatih di matras lama yang punya karakteristik lentur. Sedangkan dalam porprov kali ini menggunakan matras baru dengan permukaan lebih licin. Itu menyesuaikan acuan International Judo Federation (IJF). Eko mengantisipasi perubahan standardisasi itu dengan berniat mengganti matras latihan. Namun, rencana tersebut diurungkan lantaran harganya cukup mahal. ‘’Kami berlatih seadanya,’’ ucapnya.

Sumbangan dua medali perunggu judo datang dari Anwar di nomor kelas 50 kilogram putra. Dinda Elisabet di nomor kelas 48 kilogram putri. Keduanya sama-sama mengalahkan kontingen Surabaya di babak final. ‘’Kami akan melakukan perubahan dan meningkatkan porsi latihan untuk Porprov 2021. Masa depan anak-anak cukup potensial karena usianya masih muda-muda,’’ papar Eko.

Hingga tadi malam, Kabupaten Madiun mengoleksi 13 poin dari satu emas dan sembilan perunggu. Satu perunggu lainnya dari pencak silat di nomor kelas F 70–75 kilogram putra. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here