Pacitan

Grindulu Darurat Normalisasi

PACITAN – Membentang membelah Pacitan dari ujung kecamatan Tegalombo hingga tepi hilir sungai di pantai Pancer Door, membuat sungai Grindulu jadi kali terbesar dan terpanjang di kota 1001 gua. Bentangnya diperkirakan lebih dari 70 kilometer membuat sungai tersebut jadi sumber kehidupan warga. Namun beberapa tahun terakhir kali tersebut acap dikeluhkan lantaran kerap meluap. ’’Memang sungai Grindulu sudah mendesak untuk dinormalisasi,’’ kata Ketua Komunitas Cah Kali Pacitan Irwan Ismuratno, kemarin (26/4)

Banyaknya material longsor yang terseret banjir 2017 lalu, disusul gunturan tahun-tahun selanjutnya membuat material tanah acap terbawa arus dan mengendap di Kali Grindulu. Ditambah, sumbangan dari gunung Parangan, anak sungai Grindulu di Desa Karangrejo, Arjosari yang saban hujan mengguyur kerap memuntahkan lahar batu menambah banyak bongkahan sedimentasi kali. Hingga, jika dibandingkan lima tahun silam tak sedikit warga yang berujar “wajah” grindulu telah berubah. ’’Dulu kondisi sungai tak seperti ini, sekarang sudah berkelok-kelok dan banyak dialih fungsikan seperti tanam rumput gajah,’’ terang Irwan

Kekawathiran banjir terulang Irwan bukan tanpa alasan. Sedimentasi Grindulu membuat kondisi kali amat dangkal. Pun disebagian tempat, kedalaman sungai tak lebih dari 4 meter dari bibir jalan. Ditambah tepian sungainya kini beralih fungsi jadi ladang warga menanam rumput gajah. Jelas, hal tersebut dianggap Irwan jadi pemicu banjir. Mengingat kondisi tanah yang kian meninggi serta banyaknya tanamanan membuat aliran tak lancar. ’’Hampir seluruh tepi sungai sekarang ditanami rumput gajah, kudunya pemkab ambil tangan terkait ini dan melarang hal penanaman tersebut,’’ keluhnya

Tak hanya sembarangan protes, acap kali komunitasnya menyurati pihak Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) namun nampaknya tak pernah digubris dan terkesan dibiarkan. Desakan tersebut bukan hanya keinginan pribadi atau komunitasnya. Melainkan mewakili warga hampir di seluruh Pacitan. Khususnya, di Daerah Aliran Sungai (DAS) Grindulu. Antara lain di Kecamatan Pacitan (kota), Kebonagung, Tulakan, Pringkuku, Arjosari, hingga Bandar. Menurut dia, mereka pun membubuhkan tanda tangan sebagai lampiran permintaan normalisasi Sungai Grindulu. ’’Seharusnya pemkab bisa turun tangan, membuat perbub seperti larangan menanam rumput ditepi sungai itu, atau mendesak normalisasi,’’ harap Irwan.

Selain membuat warga cemas, luapan sungai grindulu akibat sedimentasi tersebut juga membuat puluhan makam di tempat pemakaman umum (TPU) Dusun Duduhan, Mentoro, Pacitan hilang terseret banjir. Hingga warga setempat kudu merelokasi makam yang tersisa lantaran khawatir kejadian terulang. Pun situs sejarah di desa tersebut ikut rusak setelah terdampak banjir awal Maret lalu. ‘’ada sekitar sepuluh makam yang hilang terbawa banjir, dan puluhan lainnya harus dipindahkan,’’ kata Kasi Pelayanan Pemerintah Desa Mentoro, Slamet beberapa saat lalu.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pacitan, Budiyanto  mengamini kondisi tersebut. Pun jadi sorotan pemkab hingga berulang kali dilaporkan ke BBWSBS. Pasalnya, sedimentasi tersebut berpotensi tinggi meluapnya air dan mengancam desa di sekitarnya. Seperti, Desa Karangrejo, Guyuhan, dan Arjosari. Pun beberapa saat lalu BBWSBS mulai menggarap bendungan sabo dam di desa karanggrejo, bendungan tersebut diharap bakal menahan banjir batu yang acap turun saat penghujan. ’’Kami menyerahkan sepenuhnya hal itu (penanganan perbaikan, Red) pada BBWS,’’ ujar Budi singkat. (gen/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close