Madiun

Grant Erlangga Getol Kampanyekan Peduli Lingkungan

Momen empat tahun menempuh pendidikan di Australia sangat berkesan bagi Grant Erlangga. Pasalnya, asma yang dideritanya jarang kambuh. Itu pula yang melatarbelakangi Grant getol mengampanyekan peduli lingkungan lewat kafe yang dikelolanya.

——————-

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

LALU-LALANG kendaraan nyaris tiada henti di ruas Jalan Cokroaminoto siang itu. Kebetulan suhu udara cukup panas hingga membuat suasana serba tidak nyaman. Namun, udara segar cukup terasa ketika memasuki sebuah kafe di penggal jalan protokol itu.

Yang menarik, tidak ada peralatan yang berbahan plastik di kafe dengan dinding didesain bernuansa lawas itu. Baik gelas, piring, maupun sedotan. ‘’Perlahan tapi pasti arah kami go green,’’ kata Grant Erlangga, owner kafe tersebut.

Pria kelahiran 1987 itu memiliki cerita di balik pendirian kafenya yang gencar mengampanyekan gerakan peduli lingkungan. Terutama pengurangan sampah plastik. Caranya cukup sederhana dan dimulai dari hal kecil. Semua peralatan yang digunakan di kafenya tidak berbau plastik. Sedotan, misalnya, menggunakan bahan stainless steel. ‘’Modal cukup besar dan pengunjung bertanya-tanya pastinya,’’ ujarnya.

Grant mendirikan kafenya pada pertengahan tahun lalu. Namun, niat membangun kafe muncul sejak lama. Tepatnya sembilan tahun lalu usai menyelesaikan studi di Holmes Institute, Melbourne, Australia.

Selama empat tahun tinggal dan belajar di Negeri Kanguru, Grant merasakan perubahan drastis pada kondisi fisiknya. Terutama terkait penyakit asma yang dideritanya sejak duduk di bangku SMP. ‘’Dulu hampir seminggu sekali kambuh,’’ ungkap suami Inggrit Ilona itu.

Selama tinggal di Australia asmanya jarang kumat. ‘’Mungkin karena kualitas udaranya berbeda. Di sana meskipun panas, tapi polusinya tidak seperti di sini. Dan, peralatan dapur tidak ada yang terbuat dari plastik,’’ bebernya.

Kendaraan yang melintas di jalanan Australia juga lebih sedikit ketimbang orang yang jalan kaki. Apalagi, trotoar di negara itu cukup lapang sehingga nyaman bagi pedestrian. ‘’Bisa jadi itu juga yang menjadi perbedaannya,’’ ujarnya.

Sejak itulah kegigihannya untuk peduli lingkungan muncul. Kafenya sengaja dikonsep membawa misi pengurangan produksi sampah plastik. Meski harus mengeluarkan modal cukup besar, Grant bergeming. ‘’Untuk sedotan masih menyesuaikan permintaan konsumen. Ada yang maunya plastik karena kalau pakai stainless steel bekas orang banyak,’’ tuturnya.

Awalnya, beberapa pengunjung ada yang mencela dan bahkan membatalkan niat nongkrong di kafenya. Namun, perlahan mereka sadar terhadap gerakan kecil yang dilakukan Grant. Bahkan, ada yang sengaja membawa peralatan sendiri dari rumah.

Selain mengajak pengunjung untuk hidup sehat, dia juga kerap memberikan edukasi tentang bahaya sampah plastik kepada pengunjung kafenya. ‘’Rencananya, di meja-meja ini tidak ada kotak tisu. Jadi, kami sediakan satu untuk satu pengunjung bersamaan kami antarkan pesanan makanan,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close