Madiun

Gran Erlangga-Inggrid Wilona Kibarkan Kafe Radikal

MADIUN – Kafe di Jalan Cokroaminoto itu dikonsep industrial. Lantai bangunan dua lantainya pun bertekstur acian semen untuk memberi kesan belum selesai (unfinished). Instalasi pipa menggantung di beberapa sudut dinding bersanding lukisan. Dipadu konsep hijau dengan lingkungan tropis yang ditonjolkan dari hiasan mural. Di bagian outdoornya terdapat gambar angsa berwarna pink berukuran besar memadati tembok. ’’Konsep industrial sebenarnya sudah tenar di luar negeri dan booming di beberapa kota besar. Itu yang kami bawa ke Madiun,’’ kata Inggrid Wilona, owner Radikal.

Selain desain kafe yang unik, sajian menu yang ditawarkan cukup menggunggah selera lidah milenial. Terbukti dari ramainya kunjungan kafe yang didominasi anak muda. Dalam 11 bulan, nama radikal semakin populer menjadi tongkrongan hits Kota Karismatik. ‘’Ramai, apalagi weekend,’’ tegasnya.

Inggrid pun cukup kompak mengelola Radikal bersama Gran Erlangga, suaminya. Setengah bulan ini pun, keduanya mengkampanyekan diet botol kaca. Dengan mengajak pengunjung minum air mineral dari botol kaca. Tak disangka, strategi ini memantik perhatian pengunjung lalu ramai-ramai menunggahnya ke akun media sosial. ’’Banyak yang mention kami dan responnya positif. Efektif mengurangi stok penjualan botol plastik,’’ paparnya.

Kebetulan, Grant  piawai mengkreasikan beragam menu kekininan. Mulai dari masakan hingga penyajiannya. Soal rasa jangan ditanya. Meresap sampai di kalbu, sesuai tagline andalannya. ‘’Radikal itu kan artinya perubahan yang esktrem,’’ ungkapnya.

Tujuan awal mendirikan kafe ini memang untuk menghadirkan life style baru. Orang datang tidak sekadar makan, tapi bersosialisasi. Menjalin komunikasi dengan komunitas sosialnya. Selepas lulus kuliah di Australia, Grant yang pulang ke tanah air 2011 sempat kebingungan. Mmencari tempat nongkrong yang pas dan nyaman seperti di Negeri Kanguru. Dari situlah, muncul keinginan membuka kafe. Berbekal pengalaman kerja paruh waktu sebagai pelayan sekaligus customer service restoran Indonesia di Australia. ‘’Sebelum jadi radikal, sempat buka kuliner masakan Korea tapi kurang jalan. Sifatnya masih trial,’’ paparnya.

Barulah dua tahun yang lalu, bersama Inggrid mulai membangun impiannya. Butuh waktu sekitar satu tahun untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sampai akhirnya berdirilah kafe dua lantai itu.  ‘’Selalu akrab dengan pelanggan dan harus paham semua menu,’’ paparnya. (dil/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close