Gita Kusnadi, Anak Buruh Tani, Dapat Beasiswa Kuliah S2 di Australia

227
BERPRESTASI: Gita Kusnadi yang memperoleh beasiswa S2 ke University of Queensland.

Di mana ada niat, di situ jalan terdapat. Tepat kiranya ungkapan itu mendeskripsikan perjuangan Gita Kusnadi di dunia pendidikan. Berangkat dari keluarga pas-pasan, dia berkesempatan menempuh S2 ke University of Queensland, Australia.

————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

DARI ambang pintu, Gita Kusnadi sibuk dengan setumpuk buku. Senyumnya mengembang kala membuka beberapa lembar halaman salah satu buku. Namun, hanya sekejap, tumpukan tersebut masuk ke dalam sebuah kardus. ‘’Buku-buku ini mau didonasikan ke PAUD (pendidikan anak usia dini, Red),’’ kata Gita.

Semula buku tersebut adalah bacaan untuk anak-anak SD di dekat rumah Gita di Dusun Ngepeh, Desa Jambangan, Paron. Gadis 24 tahun itu membuka kelas pembelajaran yang dinamakannya Sekolah Mimpi, Ramadan beberapa waktu lalu. Ruang tamu rumahnya disulap sebagai ruang kelas dadakan yang sanggup menampung sekitar 30 anak. Mereka adalah teman-teman adiknya. ‘’Tapi, Sekolah Mimpi ini tidak bisa dilanjutkan karena saya harus ke Australia, Juli nanti,’’  ungkapnya.

Gita memperoleh beasiswa S2 di University of Queensland dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Di salah satu perguruan tinggi ternama di Negeri Kanguru itu, alumnus Universitas Diponegoro Semarang ini bakal kuliah di jurusan master of public health nutrition. ‘’Lolos beasiswa LPDP jalur afirmasi,’’ kata dara yang S1-nya mengambil jurusan ilmu gizi tersebut.

Kabar baik itu didengar Gita kala masih di Semarang. Dia memberanikan diri menghubungi orang tuanya di Ngawi setelah sempat menahan diri menyampaikannya. Dari sambungan telepon, terdengar keduanya menangis. Akan tetapi, haru itu disikapi berbeda kala sulung dua bersaudara pasangan Tukiyem dan Supadi ini pulang kampung. Keduaya melarang berangkat dengan alasan segudang rasa kekhawatiran. ‘’Seperti pesawat jatuh dan sebagainya. Izin diberikan setelah menyampaikan berbagai penjelasan,’’ paparnya seraya menyebut salah satu cara meyakinkan itu dengan menunjukkan peta Australia berdekatan dengan Indonesia.

Di Semarang, Gita kuliah sambil bekerja sebagai pengajar privat. Dia mendatangi rumah para muridnya serampung jam kuliah. Kegiatan yang memecah fokus belajar itu harus dilakoninya karena kondisi ekonomi orang tuanya yang hanya buruh tani. Uang bulanan pas-pasan. ‘’Prinsip saya, bisa belajar tanpa membebani orang tua,’’ katanya.

Tanggung jawab gadis yang masuk ke Undip lewat jalur beasiswa bidik misi itu cukup berat. Nilai kuliahnya tidak boleh anjlok agar beasiswa dari kampus tetap mengalir. Namun pada akhirnya, Gita berhasil merampungkan studinya dalam kurun 3,5 tahun dengan predikat cumlaude. ***(cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here