Madiun

Gerakan Zero Waste

Cerita Inda Raya

SAMPAH. Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika mendengar kata sampah?

Awamnya akan tebersit kotor, jorok, jijik, bau. Sadar nggak, kalau di dunia ini problem sampah jadi isu yang sangat vital. Apalagi sampah plastik.

Beberapa saat lalu sempat viral plastik bekas bungkus salah satu merek mi instan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ternyata bungkus plastik mi instan itu tertulis Dirgahayu 55 tahun Indonesia. Padahal, pada 2019 ini Indonesia HUT ke-74. Itu berarti  bungkus plastik mi instan tersebut sudah 19 tahun.

You know what? Kondisi bungkus plastik mi instan tersebut masih lumayan utuh. Hanya tulisannya saja yang tampak pudar. Terbayang kan, ternyata bahan plastik itu susah sekali terurai.

Di Kota Madiun, sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir ada sekitar 110 ton per hari yang mana didominasi oleh sampah organik dan sampah plastik. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun sudah punya inovasi untuk mengolah sampah organik jadi gas metan yang 0 residu. Gas metan ini sebagai bahan bakar alternatif untuk kurang lebih 200 KK di sekitar TPA. Sedangkan sampah plastik didaur ulang menjadi minyak plastik setara minyak tanah.

Meskipun sampah yang masuk ke TPA bisa diolah, tetap tidak sepadan antara sampah yang masuk dengan sampah yang terolah. Bisa dibayangkan bila itu terus-terusan terjadi. Bagaimana lingkungan anak cucu kita nanti?

Di hari perdana saya masuk kerja setelah dilantik 29 April lalu, hal pertama yang saya lakukan adalah minta ke para staf di ruang kerja untuk tidak lagi menyuguhkan air mineral kemasan kepada para tamu. Pun meminta mereka untuk bawa tempat minum masing-masing yang nantinya bisa diisi air mineral dari dispenser.

Jadi, kalau ada tamu ke ruangan saya, akan disuguhi air mineral dari dispenser menggunakan gelas kaca. Cara menyuguhkannya pun saya atur sedemikian rupa. Setelah tamu duduk, maka staf baru akan mengambil gelas kaca dan mengisinya dengan air mineral.  Tempat penyimpanan gelas maupun dispenser ada di dalam ruangan yang sama dengan tamu berada. Jadi, para tamu yakin bahwa air yang disuguhkan adalah air bersih dari dispenser, bukan air keran.

Hal lain yang saya lakukan adalah ke mana-mana selalu bawa tempat minum sendiri. Paling enggak ketika datang ke suatu acara, saya tidak membuka air mineral kemasan botol atau gelas yang biasanya disuguhkan penyelenggara. Bila sehari ada tiga kegiatan, maka terselamatkanlah bumi ini dari tiga sampah plastik kemasan air mineral. Beberapa orang bertanya apakah saya mengonsumsi air khusus semacam infused water, kok ke mana-mana bawa tumbler sendiri? Nah, inilah target yang empuk untuk menularkan gerakan “Zero Waste”. Barulah saya ceritakan bahwa begini, begini, begini, dan beliau beliau tampak mengangguk-angguk.

Penggunaan sedotan plastik juga sudah saya ganti dengan sedotan stainless. Tidak apa-apa dianggap aneh pada awalnya. Tapi, begitu ada yang bertanya, maka saya akan dengan sukacita menceritakan alasannya dan mengajak dengan cinta untuk ikut menyelamatkan bumi dari sampah plastik demi generasi penerus bangsa.

Saya sendiri pun belum sepenuhnya bisa menghilangkan penggunaan plastik untuk pribadi. Karena terkadang bila kita beli barang di online shop, tentunya mereka menggunakan plastik sebagai pembungkus. Tapi, at least sebisa mungkin, saya sudah mulai mengurangi penggunaan plastik pada hal-hal tertentu. ’’We don’t need a handful of people doing zero waste perfectly. We need millions of people doing it imperfectly,’’ Anne Marrie Bonneau. (*/ota/c1)

*Penulis adalah wakil wali kota Madiun

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close