Genoveva, Aktivis Bidang Hukum yang Aktif Kawal Kasus Baiq Nuril

20
BERPRESTASI: Geno ketika menghadiri acara persiapan keberangkatan LPDP di Jakarta.

Nama Genoveva mulai mencuat ke permukaan seiring berjalannya proses hukum Baiq Nuril. Maklum, gadis itu merupakan peneliti di ICJR yang ikut mengawal penanganan kasus pelecehan seksual yang dialami Baiq Nuril. Bagaimana kisahnya?

—————-

DILA RAHMATIKA, Madiun

TAYANGAN berita di salah satu stasiun televisi menampilkan informasi terkini perkembangan kasus Baiq Nuril, korban pelecehan seksual yang terancam terjerat pasal UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Tak lama berselang, news anchor dalam berita itu terhubung via telepon dengan Genoveva Alicia Karisa Sheilla Maya.

Kala itu, di layar kaca hanya ditampilkan foto close up Geno –sapaan akrabnya- mengenakan kemeja biru putih. Dia menegaskan bahwa tim Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) akan mengajukan amnesti kepada Presiden Joko Widodo setelah Mahkamah Agung (MA) menolak gugatan Baiq Nuril. ‘’Tentunya kami kecewa dengan keputusan MA,’’ kata Geno menjawab pertanyaan pembawa berita tekait putusan MA.

Siapa sangka perempuan cantik berambut sebahu itu berasal dari Kota Madiun. Dara 21 tahun ini tengah bekerja di lembaga kajian independen dan advokasi yang fokus pada reformasi sistem peradilan pidana dan hukum lainnya di Indonesia.

Lembaga tersebut mendampingi Baiq Nuril sedari Pengadilan Negeri (PN) Mataram. ‘’Waktu itu saya belum bekerja di ICJR. Ikut membantu enam bulanan ini sejak ada kabar banding. Kami kirim amicus curiae (sahabat pengadilan, Red). Bersama teman-teman aliansi safety Bu Nuril, kemudian kita advokasikan juga kasus ini,’’ bebernya.

Saat ini, warga Jalan Wuni, Kota Madiun, itu bersama rekan kerjanya sedang menanti konfirmasi pertemuan dengan presiden. Kabar baiknya, berkat usaha Geno dkk, Baiq Nuril telah bertemu sejumlah anggota DPR-RI maupun Menteri Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Yasonna Laili. Diharapkan proses hukum selanjutnya berjalan lancar. ‘’Beberapa hari ini agak cepat perkembangannya,’’ papar Geno saat dihubungi Jawa Pos Radar Madiun.

Geno menganggap wajar kasus Baiq Nuril menjadi sorotan publik. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa warga negara Indonesia semakin menyadari bahwa korban kekerasan maupun pelecehan seksual harus mendapatkan keadilan.

Pun, kasus itu diharapkan bisa menjadi pembelajaran bersama, terutama Mahkamah Agung, agar lebih cermat dalam memutuskan perkara. ‘’Untuk publik, jangan sampai kasus ini bikin korban kekerasan seksual takut mengungkapkan kejadian yang dialami. Korban kekerasan seksual punya hak untuk membela diri dan negara wajib untuk melindungi,’’ tegasnya.

Usut punya usut,  Geno yang keilmuannya fokus pada hukum pidana ini sedari kuliah biasa berdiskusi dengan dosen. Kebetulan yang kerap menjadi topik perbincangan adalah isu-isu gender. Ditambah pengalamannya sebagai relawan di Rifka Annisa Women’s Crisis Center, sebuah LSM di Jogjakarta yang memberikan konseling hukum bagi perempuan.

‘’Selama menjadi tenaga relawan, saya menemukan banyak kasus yang ternyata nggak pernah saya temukan saat masih kuliah,’’ ujar peraih predikat lulusan terbaik Fakultas Hukum UGM pada wisuda periode III 2018 ini.

Sejatinya, saat SMA Geno ngebet kuliah di jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Indonesia. Namun, gagal lolos. Akhirnya, dia diterima di pilihan tiga, yakni Hukum UGM. ‘’Saat sudah jalan (kuliah jurusan hukum, Red) ternyata dunia hukum itu mengasyikkan juga. Logic masuk aja di kepala, dan saya merasa enjoy,’’ akunya.

Geno memendam keinginan menjadi seorang akademisi sekaligus praktisi. Desember tahun lalu, sulung dua bersaudara ini berhasil mendapatkan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). ‘’Kalau dapat sekolah, saya inginnya ke London School of Economics and Political Sciences. Belajar master of law, konsentrasinya pada human rights law,’’ katanya. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here