Gelora Gelorakan Antikorupsi lewat Film

172

PONOROGO – Skenario film Subur Itu Jujur besutan Gelora Yudhaswara lolos Anti Corruption Film Festival 2018. Karya sutradara muda itu menjadi satu dari tujuh skenario yang dipilih KPK. Film berdurasi 16 menit itu pun telah diproduksi dan siap diputar di ruang publik seluruh pelosok negeri.

————————–

FILM itu dibuka dengan musik bernada jenaka. Bocah gendut, aktor ciliknya, bersiap berangkat sekolah. Berkacak di depan cermin dengan seragam olahraga. Berbincang sebentar dengan ibunya di ruang makan. Dua bapak-bapak berbincang di luar rumah. Seorang darinya menyerahkan stopmap berisikan dokumen. Selembar amplop terlihat kala stopmap itu terbuka sedikit. Si pemberi stopmap itu membahasakan kode suap dengan senyumnya. Itulah sepenggal trailer film Subur Itu Jujur karya Gelora Yudhaswara. ‘’Tantangan terberat produksi film itu mencari sumber daya manusia (SDM)-nya,’’ kata sutradara film pendek itu.

Sadar memberantas korupsi bukan perkara mudah, Gelora mencoba berikhtiar lewat karya. Pesan moral dari film pendek besutannya itu menanamkan kejujuran sedari dini. Sebelum di-launching sebentar lagi, trailernya sudah terposting di YouTube. Direncanakan, film itu bakal ditayangkan ke seluruh pelosok negeri. ‘’Bangga bisa dipercaya membuat film yang benar-benar dapat memberikan edukasi,’’ ujarnya.

Sebelum diapresiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Gelora harus bersaing dengan ratusan konsep skenario dari seluruh daerah di tanah air. Dari 250 skenario,  terpilih tujuh terbaik. Salah satunya garapan Gelora. ‘’Setelah tahu pengumuman resminya, saya langsung persiapkan produksinya,’’ tuturnya.

Dalam berproduksi, Gelora tentu tak sendiri. Dibantu sedikitnya 24 kru untuk memfilmkan satu dari tujuh skenario terbaik itu. Kampung halaman sang sutradara menjadi lokasi syutingnya. Kebersamaan dan kekompakan dalam proses kreatif sangat menentukan kualitas film. ‘’Produksi tidak dapat dikerjakan sendiri. Pasti dibantu kru,’’ terang sutradara kelahiran 1990 itu.

Persiapan mulai dilakukan sebulan sebelum produksi. Mulai memilih talent, pembuatan naskah, hingga mencari keperluan produksi alat dan lain-lainnya. Tidak mudah memilih talent yang dipercaya menjadi aktornya. Gelora melakukan seleksi ketat sebelum memilih 17 aktor. Tiap aktor harus mampu menyelami karakter yang diperankan. Sementara alat produksi beserta kru langsung didatangkan dari Jogjakarta. Mulai kru sound recording, kameramen, hingga lighting. ‘’Sebenarnya produksi fix-nya hanya dua hari. Tapi harus mengulang-ulang setiap adegan hingga mendapatkan hasil terbaik,’’ jelasnya.

Dua hari, Gelora dituntut jeli dalam menilai setiap adegan yang dibawakan aktor. Tidak jarang, satu adegan diulang hingga puluhan kali. Tapi, dia cukup telaten dan sabar meladeni para pemain yang mayoritas anak-anak itu. Selain susah diarahkan, para pemainnya tergolong aktor baru yang berakting di depan kamera untuk pertama kalinya. Setelah proses syuting selesai, Gelora masih disibukkan proses editing yang juga menuntut ketelitian. ‘’Proses kreatif itu memang panjang, tapi menyenangkan,’’ ungkapnya.

Film bukan mainan baru bagi sutradara 29 tahun itu. Masih ingat betul bagaimana proses kreatif produksi film Ibu. Film pendek berdurasi enam menit itu merupakan karya  pertamanya. Aktornya, Suratemi, yang tak lain neneknya sendiri. Kini, tak terhitung sudah berapa film yang telah dia luncurkan. Termasuk film Keprabon yang berdurasi satu jam. Sejak lama dia meyakini jalan film sebagai penyampai pesan terbaik bagi penonton. ‘’Selalu tertantang membangun pesan positif melalui film. Karena semua adegan yang mengandung pesan itu akan membekas lama di benak pemirsa,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here