Gelombang Tinggi, Nelayan Ciut Nyali

80

PACITAN – Angin kencang dan cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir membuat para nelayan di Pacitan enggan melaut. Pun gelombang setinggi hingga empat meter di Samudra  Indonesia membuat mereka ciut nyali. Hanya segelintir nelayan yang nekat mengangkat jangkar. ‘’Kalau melaut pun hanya sebentar di sekitar pantai,’’ kata Warsito, salah seorang nelayan, kemarin (2/1).

Menurut Warsito, gelombang tinggi mulai terjadi sejak sebulan lalu. Namun, tiga hari terakhir jauh lebih ganas. Di sekitar pantai memang tak terlalu besar. Namun, makin ke tengah kian dahsyat. Sampai-sampai kapal besar pun enggan menantang ombak. ‘’Sepi yang melaut kalau cuaca buruk seperti ini. Santai-santai saja di dermaga,’’ ujarnya.

Dia tak hanya sayang nyawa. Tapi juga sayang kapal. Sebab, kerusakan kapal butuh biaya besar untuk memperbaikinya. Belum lagi jika jaring hilang terseret ombak. Kerugian materiil bakal berlipat-lipat. ‘’Itu masih itungannya ringan, kalau kapal sampai bolong tambah biaya lagi,’’ papar nalayan di Pelabuhan Tamperan, Pacitan, ini.

Dalam sebulan terakhir, Warsito tak lebih dari 10 kali angkat jangkar. Selain cuaca kerap berubah, potensi ikan pun tak sebanyak biasanya. Musim baratan membuat suhu perairan di sekitar Pacitan berubah-ubah hingga kurang mendukung ikan tinggal.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Warsito mengandalkan sumber pendapatan dari memancing di sekitar dermaga. Biasanya dalam sehari dapat mengumpulkan tiga hingga enam kilo ikan. Meski mayoritas dimasak ketimbang dijual. ‘’kurang laku kalau dijual karena jumlahnya sedikit,’’ bebernya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Pacitan Dianita Agustinawati menyebut potensi gelombang tersebut tak lepas dari bibit siklon 96S di Samudra Indonesia (selatan Jawa). Itu berdampak perubahan cuaca di beberapa wilayah Pulau Jawa.

Meski ada bibit siklon, namun tak ada tanda-tanda pergerakan menuju Pacitan. Pun lokasinya berada jauh di tengah samudra. Sehingga, kata dia, warga tak perlu panik akan potensi bencana. ‘’Waspada tetap perlu, termasuk kesiapan terhadap hujan sedang hingga lebat, karena kita memasuki musim penghujan,’’ jelas Dianita. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here