Geledah Rumah, Densus Sita Tujuh Handphone

212

MEJAYAN – Keluarga Jok bersikap tenang menghadapi kasus dugaan aksi teror. NF, istri terduga teroris yang diringkus Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, patuh kala rumah kontrakannya di Jalan Bromo, Desa/Kecamatan Mejayan diobok-obok mencari sejumlah barang. Bahkan, perempuan 46 tahun itu sempat dipuji salah seorang petugas densus yang melakukan penggeledahan. ’’Petugasnya merasa senang menghadapi orang yang tenang saat rumahnya digeledah,’’ kata Kepala Desa Mejayan Titik Handayani Rabu (15/5).

Titik merupakan salah seorang saksi yang dihadirkan saat menggeledah tempat tinggal Jok selang empat jam usai penangkapan, Selasa lalu (14/5). Saksi lainnya kepala dusun dan beberapa petugas polsek setempat. Selama sekitar 15 menit penggeledahan, NF hampir tidak pernah mengucap sepatah kata pun, kecuali disodori pertanyaan. Jawaban yang diberikan pun sekenanya. Sikap tersebut mengundang pernyataan dari petugas hingga membuat kades penasaran. ‘’Ibu tenang sekali ya, lama ikut organisasi ya,’’ ujarnya mengulang kalimat petugas itu ke NF.

Titik mengungkapkan, NF tidak merespons ucapan petugas densus. Ibu tujuh anak itu hanya diam. Mimik muka datar yang dipasang sejak awal kepada petugas sama sekali tidak berubah. Padahal, kata “organisasi” dari petugas itu membuat pikirannya ikut sibuk mengartikan. ’’Entah, apa maksudnya. Persepsi saya mungkin berbeda dengan orang lain,’’ ucapnya kepada Radar Caruban.

Para saksi menyaksikan petugas densus yang berpakaian tertutup serba hitam menyita sejumlah barang pribadi Jok. Barang yang diambil itu terdiri tujuh unit handphone (HP), tiga buah flashdisk berbeda warna, dan satu buah laptop. Semuanya sudah masuk dalam data pencariannya densus. Sebelum diangkut, barang yang disita ditunjukkan kepada para saksi dengan diletakkan di tengah ruang tamu beralas kasur. Selanjutnya didokumentasikan. ’’Tidak ada penjelasan kenapa dan untuk apa HP segitu banyaknya,’’ terang Titik sembari mengatakan seingatnya ada tiga buah HP yang disebut-sebut rusak.

Titik menilai ekspresi tenang NF menunjukkan tidak sedang dirundung kesusahan. Padahal, suaminya baru saja ditangkap tim densus dengan dugaan terlibat aksi teror. Pun, seandainya kelak terbukti bersalah, bakal menjadi single fighter sementara waktu karena harus membesarkan anak-anaknya yang masih kecil. Sepenglihatannya, bola mata NF lebih sering mengamati sosok densus dan polisi dari mulai bagian atas hingga bawah. ‘’Hanya sekali dia (NF) bertanya ke densus apakah HP-nya juga ikut dibawa. Petugasnya bilang kalau tidak termasuk, karena digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga,’’ paparnya.

Kades sempat berkomunikasi dengan NF, namun arah pembicaraan bukan mengarah pada kasus. Melainkan menyinggung identitas diri. Di antaranya bersama suami pindahan dari Semarang, Jawa Tengah, sekitar 10 tahun silam. Sembilan tahun berdomisili di Jalan Anggrek, Kelurahan Bangunsari, Mejayan. Mereka juga mengubah kartu keluarga (KK) dan KTP. Kemudian memutuskan pindah kontrakan ke Jalan Bromo yang hingga kini sudah berlangsung delapan bulan. NF tidak menceritakan alasan pindah tempat tinggal di lingkup tetangga desa, namun Titik menduga karena faktor kenyamanan. ‘’Kontrakan yang disewa saat ini cukup luas dan lokasinya sedikit tersembunyi. Mungkin ingin ketenangan,’’ urainya.

Keseharian NF adalah ibu rumah tangga. Nafkah keluarga dicukupi dari penghasilan suaminya yang berjualan kacamata di utara Pasar Sayur Caruban. Keluarga itu dikaruniai tujuh anak. Tiga yang sudah dewasa dipondokkan di Ngawi.  Tiga lainnya masih seusia anak SD, bersekolah di Mejayan. Sedangkan seorang lainnya sudah berkeluarga dan berada di Sumatera. ‘’Saat saya ke sana, tiga anaknya yang kecil tidak ada. Mereka di masjid dan baru pulang ketika mau buka puasa,’’ kata Titik.

Selain menyita barang pribadi, petugas densus menyampaikan pesan Jok kepada NF. Isinya mengisyaratkan bahwa pria 47 tahun itu memahami posisi, situasi, konsekuensi, dan langkah yang telah diambil. Jok meminta NF untuk memberikan kabar keluarga di Semarang. Sedangkan terkait sekolah anak, dibebaskan entah di Semarang atau Caruban. ‘’Menerima pesan itu, responsnya (NF) juga tetap diam,’’ ungkapnya.

Lantas, bagaimana kondisi Jok? Informasi yang dihimpun, terduga teroris itu bakal dipindah ke Mako Satbrimob Polda Jatim dari tempatnya diperiksa Mako Brimob Detasemen C Polda Jatim di Kota Madiun kemarin siang. Namun, awak media yang menunggu sepanjang hari kemarin tidak melihat tanda-tanda kendaraan berpengaman ekstra keluar. Kasat Brimob Polda Jatim Kombes Pol I Ketut Gede Wijatmika ketika dimintai konfirmasi tidak merepons. Pesan yang dikirimkan via WhatsApp tidak berbalas. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here