Gedung Trauma Center Tak Kunjung Rampung

116
DCIM100MEDIADJI_0359.JPG

MADIUN – Proyek kakap Trauma Center RSUD dr Soedono terancam jadi monumen. Pasalnya, pihak rumah sakit selama ini terkendala biaya dalam menyelesaikan bangunan delapan lantai tersebut. Direncanakan menyedot Rp 248 miliar. Namun apa daya, anggaran yang didapat tak lebih dari separo. Alhasil, hanya konstruksi yang didapat. Bahkan pihak rumah sakit tidak tahu kapan pembangunannya bisa tuntas seratus persen. ’’Kalau ditanya kapan selesainya, hanya Tuhan yang tahu,’’ kata Direktur RSUD dr Soedono dr Bangun T. Purwaka.

Sudah berbulan-bulan tidak ada pekerjaan di bangunan bakal Trauma Center. Pantauan Jawa Pos Radar Madiun, bangunan yang juga dilengkapi basemen itu hanya dibalut pagar seng di sekelilingnya. Juga tidak ada aktivitas apa pun di dalamnya.

Bangun mengungkapkan, pembangunan Trauma Center di sisi utara rumah sakit tersebut direncanakan sejak tahun 2016, usai usulan dari RSUD disetujui oleh pemprov. Sesuai rencana, Trauma Center bakal berisikan instalasi gawat darurat (IGD), kamar operasi, intensive care unit (ICU), high care unit (HCU), Cath Lab (laboratorium kateterisasi jantung), serta sejumlah sarana pelayanan dan pendidikan. ’’Kami inginnya ya cepat selesai, tapi ada kendala pembiayaan,’’ terangnya.

Miris, anggaran yang didapat rumah sakit hanya Rp 60 miliar. Rencana proyek tersebut dituntaskan single years pun kandas. Tapi, pihak rumah sakit saat itu memutuskan untuk tetap mewujudkan rencana. Namun, karena yang tersedia hanya Rp 60 miliar, yang didapat pun hanya konstruksi. Pekerjaan tahap I itu dimulai Juni 2017 lalu.

Sayangnya, kendala tak henti menerpa. PT Yala Persada selaku pelaksana pembangunan tahap I telat menyelesaikan pekerjaannya. Bangun menyebut, keterlambatan bahkan mencapai 20 hari sampai di awal Januari tahun ini. ’’Kendala cuaca, hujannya betul-betul di luar prediksi,’’ sebut Bangun.

Akankah gedung Trauma Center terancam menjadi monumen mangkrak? Bangun tidak berharap demikian. Dia mengklaim, tahun ini pembangunan Trauma Center siap dilanjutkan usai pihaknya menerima kucuran anggaran Rp 15 miliar pajak rokok dan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT). Pada pembangunan tahap II tahun ini, fokusnya pada penyelesaian lantai 1 yang direncanakan untuk IGD. Di samping itu, fasad (tampilan luar) bangunan juga coba diselesaikan. Saat ini proses lelang sudah memasuki masa sanggah. ’’Sebenarnya, tahun ini kami diproyeksikan menerima Rp 114 miliar dari pajak rokok. Tapi karena ada kendala tunggakan BPJS Kesehatan yang bengkak triliunan di nasional, pemerintah pusat mengalihkan sebagian besar anggaran ke sana,’’ bebernya.

Kesulitan dalam pembiayaan rupanya belum berakhir. Gubernur Jatim Soekarwo meminta pihak rumah sakit untuk mencari dana talangan jika ingin menuntaskan proyek tersebut. Pihak rumah sakit lantas mengajukan pinjaman Rp 60 miliar melalui Bank Jatim.

Tahun depan dana pinjaman itu cair. Bangun menyebut, dana tersebut akan digunakan membiayai penyelesaian lantai 2 yang isinya IGD, IGD khusus kandungan, dan Cath Lab. Selain itu, lantai 6, 7, dan 8 yang berisikan ruang operasi dan kamar operasi dikerjakan tahun depan. ’’Uang sebanyak itu tidak cukup menyelesaikan semua. Kami prioritaskan untuk pelayanan, dan yang bisa menghasilkan pendapatan bagi rumah sakit,’’ ujarnya.

Lantas, seberapa penting sebenarnya Trauma Center bagi rumah sakit? Wakil Direktur RSUD dr Soedono M. Sucahyono mengatakan, pihaknya cukup banyak menangani korban laka lantas setiap tahun. Trauma Center dengan fasilitas kedokteran nan lengkap dibutuhkan untuk menangani para korban tersebut. Terlebih, setelah tol trans-Jawa tersambung di Madiun. (naz/c1/ota)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here