Gara-Gara Sibel, Sukron Ngamuk Lukai Empat Warga dengan Keris

345

PONOROGO – Tragedi pertumpahan darah menggegerkan warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Sukorejo, sekitar pukul 23.30 Rabu malam (31/10). M. Sukron Fadeli, 33, salah seorang warga setempat, menyerang empat warga lainnya di area pesawahan. Seperti kesetanan, Sukron dengan membabi buta menyabet dan menusuk menggunakan keris. ’’Dipicu masalah penggunaan sibel (pompa dalam, Red),’’ kata Kapolsek Sukorejo AKP Harijadi, Kamis (1/11).

Petaka bermula saat 25 warga Dukuh Soko yang merupakan anggota kelompok tani (poktan) setempat hendak melepas sibel milik Mariatun, ibu dari pelaku. Tindakan warga itu berdasarkan kesepakatan larangan penggunaan sibel hasil musyawarah pada 21 Oktober lalu. Hasil musyawarah menyebutkan bahwa dalam waktu 3×24 jam setelah ditandatangani surat kesepakatan, sibel harus dilepas. Total ada tiga warga yang memasang sibel. ’’Kesepakatan itu sebenarnya sudah yang ketiga kalinya,’’ ujar Harijadi.

Namun, sampai lewat batas waktu hasil kesepakatan kali ketiga itu, Mariatun tidak menghiraukan peringatan warga. Sementara, dua pemilik sibel lainnya yang sudah melepas merasa iri. Warga mencegah kedua pemilik tersebut memasang kembali sibel karena ditakutkan menimbulkan masalah baru.

Tidak ingin masalah semakin meruncing, warga setempat berkumpul di kantor desa setempat pukul 19.30. Mereka hendak meminta Mariatun mencopot sibel dengan cara baik-baik. Usaha warga nihil setelah mendapat penolakan dari pemilik sibel. ’’Dari situlah situasi semakin memanas,’’ tutur Harijadi.

Mendapat penolakan, warga setempat beramai-ramai mencopot sibel di sawah milik Mariatun. Sementara Mariatun hanya menangis sambil berkata dirinya lebih baik dikubur di samping sibel daripada sibel miliknya dilepas. Ucapan itu didengar Sukron, pelaku, yang tak tahan melihat ibunya mendapat perlakuan seperti itu.

Tanpa pikir panjang, Sukron mengambil keris peninggalan kakeknya di lemari. Sembari teriak, Sukron berlari mengejar warga. ’’Memang nekat aksi pelaku ini, emosinya sudah memuncak, tidak dapat dibendung lagi,’’ ucapnya.

Warga yang belum sampai di tempat tujuan terkejut. Bahkan, sebagian dari mereka lari tunggang langgang di areal persawahan. Sukron langsung menyerang warga dengan kerisnya. Hingga mengenai leher Jemikun, 60, yang berada di tengah rombongan. ’’Korban pertama langsung lari menyelamatkan diri dengan darah mengucur,’’ terang kapolsek.

Sukron kembali menyerang membabi buta. Akhirnya keris menancap di dada Suprapto, 45. Setelah keris dicabut, dia kembali menyasar warga lainnya. Kerisnya sempat menyayat punggung Dandy Pratama, 16, dan lengan kanan Riyan Rifai, 17. Sebelum akhirnya petugas datang untuk mengamankan pelaku.

Petugas dibantu warga setempat segera melarikan keempat korban menuju klinik kesehatan setempat untuk mendapatkan perawatan. Suprato dan Riyan yang menderita luka cukup parah harus dirujuk ke RSU Muhammadiyah. ’’Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu,’’ tuturnya.

Harijadi mengatakan bahwa penyebab kejadian tersebut lantaran melanggar kesepakatan yang telah dimusyawarahkan bersama sebelumnya. Pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa dan keluar dari rumah sakit 2006 lalu. ’’Kami proses, kami juga akan memastikan apakah sakit jiwanya kambuh atau bagaimana,’’ jelasnya.

Saat dimintai keterangan, pelaku dapat menjawab dengan logis semua pertanyaan yang dilontarkan petugas. Pelaku dijerat pasal 351 KHUP tentang penganiayaan dengan ancaman kurungan penjara maksimal lima tahun. ’’Sebagai pembelajaran, dan kalau memang itu sudah disepakati warga, jangan dilanggar,’’ tegas Harijadi. (mg7/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here