Gara-gara Sampah, Jembatan Makam Selo Ambrol

152

MADIUN – Hujan deras disertai banjir yang terjadi pada Kamis malam lalu (10/1) berdampak pada rusaknya infrastruktur. Salah satunya Jembatan Makam di Lingkungan Selo, Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, kemarin (11/1). Dibangun pada 1978, plengsengan jembatan itu terus tergerus sungai hingga ambrol.

Rusaknya jembatan dengan panjang 4 meter lebar 1,5 meter yang menghubungkan akses warga ke tempat pemakaman umum (TPU) itu kali pertama diketahui Sumardi sekitar pukul 05.30. Dirinya yang saat itu akan membuang sampah di pinggir sungai, mendengar suara gemuruh jembatan ambruk.

Kejadian itu selanjutnya dia laporkan ke pihak kelurahan untuk kemudian diteruskan ke BPBD serta dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR). ’’Posisi jembatan yang melintang di atas Kali Sono itu ambles. Sehingga, tidak bisa dilewati oleh warga,’’ kata Sumardi saat ditemui di lokasi kejadian kemarin.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Agus Hariono menyatakan, setelah mendengar laporan dari warga itu, pihaknya lantas berkoordinasi dengan bidang bina marga DPUTR terkait penanganannya. Selanjutnya, sekitar pukul 13.00 anggota unit reaksi cepat (URC) DPUTR serta BPBD meninjau lokasi. ‘’Penanganan dilakukan dengan cara pembersihan sampah yang ada di sungai secara manual dan menggunakan alat berat,’’ terangnya.

Dia menduga pemicu ambrolnya jembatan tua itu adalah air Sungai Sono yang tidak bisa mengalir lancar saat hujan deras dua hari lalu. Sampah dan bambu menutup nyaris seluruh jembatan. Ketika hujan deras, air menggerus tanah dan plengsengan jembatan. ’’Sampah bambrongan yang dibersihkan mencapai 5 ton,’’ ungkap Agus.

Bagaimana dengan akses warga menuju makam? Agus mengatakan jembatan yang ambrol karena tergerus luapan air Sungai Sono itu konstruksinya akan diruntuhkan semua. Selanjutnya, reruntuhan material konstruksi jembatan dibersihkan dan kembali dibangun jembatan darurat oleh pihak DPUTR. ‘’Itu sekadar penanganan sementara, seminggu lagi jadi,’’ ujarnya.

Yang jelas, kata Agus, saat ini fokus penanganan utama ada pada pembersihan material sampah yang menyumbat aliran Sungai Sono tersebut. Supaya saat hujan deras kembali turun, tidak sampai menyebabkan banjir. ‘’Persoalan yang sama juga terjadi di Kelurahan Kelun. Tapi, kondisinya tidak separah di sini. Tetap nanti akan kami bersihkan,’’ tuturnya.

Sebagaimana diketahui, dari hasil pemetaan BPBD terdapat empat kelurahan di Kota Madiun yang rawan banjir. Meliputi Pilangbango, Tawangrejo, Kelun, dan Rejomulyo. Sebagai langkah antisipasi terjadinya banjir, pemkot telah menyiagakan delapan unit pompa air. Satu unit merupakan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, sedangkan tujuh unit mesin pompa air lainnya merupakan milik DPUTR Kota Madiun.

Beberapa mesin pompa air milik pemkot itu disiagakan di Jalan Kaswari; Gang Pancasila, Nambangan Lor; Jalan Pandan; dan Kelurahan Pangongangan. Tiap pompa air memiliki kemampuan menyedot berbeda-beda. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here