NgawiPeristiwa

Gantung Diri, Tinggalkan Pesan di Secarik Kertas

NGAWI – Santoso, 48, pendek akal. Warga Desa Puhti, Kecamatan Karangjati, itu ditemukan tewas cara gantung diri di blandar rumahnya sekitar pukul 05.00 Senin (26/4). Bapak dua anak tersebut nekat ngendhat diduga akibat depresi.

Kanit Reskrim Polsek Karangjati Aiptu Suratno mengatakan, jasad Santoso dengan leher terjerat tali kali pertama diketahui Wiwin Supriyanti istrinya. Di dekat tubuh pria itu terdapat sebuah kursi plastik warna putih. Seketika Wiwin menjerit minta tolong. ‘’Setelah itu, warga berdatangan, lalu perangkat desa setempat melaporkannya ke kantor polisi,’’ ujarnya.

Setelah mendapat laporan, Suratno bersama anak buahnya plus petugas medis dari puskesmas setempat segera menuju tempat kejadian perkara (TKP). Simpul hidup tali yang melilit leher korban dilepas. Jasad Santoso lantas diturunkan.

Dari saku Santoso, petugas secarik kertas bertuliskan Ojo nyalahke sopo-sopo. Sepurane sing akeh masyarakat Puhti, keluargaku ben podho tenang. Dirawat cah-cah Ma, sing podo rukun. Sepurane pisan engkas. ‘’Kami sudah mengkroscek tulisan di kertas itu dengan tulisan korban semasa hidup, hasilnya identik,’’ imbuhnya.

Berdasarkan keterangan anggota keluarga yang digali petugas, sejak setahun terakhir Santoso mengalami depresi. Hanya, empat hari belakangan menunjukkan gelagat berbeda yang membuat keluarganya waswas. Selama empat hari itu Santoso tidak pernah mandi. ‘’Pukul 20.00 sebelumnya (Santoso) masih berada di dalam rumah seperti biasanya,’’ terang Suratno.

Hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Santoso, selain bekas lilitan pada lehernya. Karena itu, disimpulkan bahwa kematiannya murni akibat gantung diri. ‘’Pihak keluarga meminta untuk tidak dilakukan otopsi dan menerima kejadian itu sebagai musibah,’’ pungkas Suratno. (den/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close