Truk Parkir Ganggu Aktivitas di Pasar Muneng

101
RATA TANAH: Lahan bekas los berdagang di Pasar Muneng, Pilangkenceng, bakal dimanfaatkan untuk kantong parkir roda dua sementara waktu.

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Pasar Muneng, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, berkelindan masalah. Tidak hanya puluhan lapak bodong yang harus dibongkar. Halaman depan pasar mingguan itu beralih fungsi jadi tempat pemberhentian sementara kendaraan besar. ‘’Banyak truk parkir sampai bangunan pasar tertutup,’’ kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Madiun Kurnia Aminulloh Minggu (11/8).

Pasar Muneng berada di Jalan Raya Caruban–Ngawi. Intensitas kendaraan yang melintas pun tinggi. Sebab, termasuk ruas jalan nasional yang berbatasan Ngawi. Selama ini banyak sopir truk memarkir kendaraan di luar badan jalan depan pasar berdalih istirahat. Tidak hanya memanfaatkan sisi selatan jalan, tapi juga utara. Kendaraan sering menutup dua gerbang masuk pasar. ‘’Sesuai ketentuan, ruas jalan nasional tidak diperkenankan untuk parkir,’’ ujarnya.

Menurut Kurnia, keberadaan truk parkir mengganggu pengguna jalan lainnya. Juga para pengunjung yang keluar masuk pasar. Problem tersebut perlu segera diurai. Sebab, pasar merupakan sentra ekonomi. Keberadaan warung remang-remang (warem) di kompleks pasar tradisional itu ditengarai jadi salah satu daya tarik sopir. ‘’Apakah mereka pengguna jasa (warem, Red), itu permasalahan lain,’’ sebutnya.

Rekayasa pengelolaan tempat parkir dilakukan untuk mengurai gangguan tersebut. Los yang sudah rata tanah, sementara waktu dimanfaatkan tempat parkir kendaraan roda dua pengunjung. Sedangkan truk dan roda empat lainnya diarahkan menempati pelataran kosong lain di kompleks Pasar Wage, nama lain Pasar Muneng, seluas sekitar dua hektare itu. ‘’Jadi, supaya ekonomi bisa men-support dan parkir tidak mengganggu pengguna jalan,’’ tuturnya seraya menyebut parkir motor di dalam kompleks pasar demi pertimbangan pengawasan keamanan.

Pihaknya akan melihat efektivitas rekayasa dalam tiga hingga tujuh hari ke depan. Setelah penertiban los berukuran 15×20 meter oleh petugas gabungan, Kamis (8/8) dan Sabtu lalu (10/8). Bila penumpukan truk di tepi jalan masih tinggi, pihaknya bisa mengambil tindakan. Salah satunya, memasang rambu atau papan larangan parkir. ‘’Kalau penerangan tidak ada masalah, lampu sudah disiapkan,’’ ujarnya.

Sebelumnya, dinas perdagangan koperasi dan usaha mikro (disperdakop-UM) siap menata ulang Pasar Wage dengan dana Rp 2 miliar tahun depan. Bujet dari dana alokasi khusus (DAK) itu untuk merevitalisasi dua los dagang. Organisasi perangkat daerah (OPD) itu belum bisa memastikan masuk tidaknya tempat parkir sebagai proyeksi penataan pasar. Fasilitas tersebut masih kondisional dengan melihat perkembangannya. Tidak menutup kemungkinan masuk pembenahan yang ditindaklanjuti alokasi dana dari APBD. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here