Galian Bodong Berkedok Kolam Pemancingan

749

MADIUN – Sekali lagi, Pemkab Madiun kecolongan kegiatan usaha ilegal. Setelah lima toko modern yang disegel karena nekat beroperasi tanpa izin usaha toko swalayan (IUTS), kini terkuak dugaan usaha penambangan tanah uruk berkedok pembangunan kolam pemancingan. Tidak tanggung-tanggung, kegiatan di Dusun Krajan, Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Dagangan, itu telah berlangsung sejak dua tahun lalu. ‘’Seingat saya kegiatannya dimulai akhir 2017,’’ kata Sarwoto, ketua RT 13 RW 4, Desa Sukosari, Dagangan, kemarin (18/3).

Lokasi tambang bodong itu berbatasan dengan Desa Sukosari. Untuk menuju ke sana, harus melewati jalan desa setempat. Sebuah banner sekitar 2×1 meter terpasang di pagar rumah salah seorang warga di bibir akses masuk jalan tersebut. Spanduk bertuliskan kegiatan pembangunan kolam pemancingan Watu Dakon Resort. Disertakan pula izin nomor 556/41/402.112/2017 dari dinas pariwisata kepemudaan dan olahraga (disparpora). ‘’Kalau izinnya kolam pemancingan, masa kedalaman yang digali sampai belasan meter,’’ ujarnya.

Kemarin siang, area yang telah dikeruk hingga kedalaman 15 meter dan lebar mencapai 50 meter itu terlihat sepi. Satu unit backhoe menepi di dalam galian yang berbentuk segitiga tersebut. Padahal, empat hari sebelumnya, alat berat itu didapati awak media masih beroperasi. Mengeruk tanah dan memasukkannya ke dalam bak dump truck yang berdatangan. ‘’Jumat (15/3) sudah tidak ada aktivitas penambangan,’’ tutur Sarwoto kepada Radar Mejayan.

Kabid Pengembangan Pariwisata Disparpora Kabupaten Madiun Isbani menyatakan, izin pemancingan Watu Dakon Resort hingga kini belum keluar. Dia menyangkal nomor 556/41/402.112/2017 yang tertera pada banner adalah izin yang diterbitkan disparpora. Melainkan nomor surat keterangan yang diberikan kepada pengusaha untuk mengurus izin tanda daftar usaha pariwisata (TDUP) penyelenggaraan hiburan ke dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (DPMPTSP). ‘’Surat keterangan itu keluar setelah pengusahanya konsultasi berniat membangun kolam pemancingan,’’ katanya.

Pengusaha yang diketahui berasal Kecamatan Kebonsari itu tampak serius membicarakan tahapan mengurus perizinan. Karenanya, Isbani kaget saat mendengar kabar ada aktivitas penambangan liar berkedok pemancingan ikan di Banjarsari Wetan. Bila menengok luasan dan kedalaman tanah yang dikeruk, tidak masuk akal lahan digunakan untuk konsep pemancingan ikan. ‘’Meski pengusahanya tidak sampai menujukkan desain kolam pemancingan saat konsultasi,’’ ujarnya.

Isbani pun menegaskan, kolam pemancingan hanya modus untuk menjalankan penambangan secara ilegal. Sebab, hasil kroscek DPMPTSP, tidak terdata izin operasi produksi (OP) penambangan galian di Banjarsari Wetan. Modus tersebut diperkuat dengan memanfaatkan nomor surat keterangan sebagai alasan telah mengantongi izin. Isbani menyangkal anggapan kecolongan karena tidak tahu persoalan maladministrasi izin yang terjadi sejak dulu. Dia mengira pengusaha tidak jadi membangun kolam pemancingan. Pun, tak ada kabar kelanjutan dari DPMPTSP. ‘’Bagaimana kami bisa memonitor kalau tidak ada proses mengurus perizinan dari pengusahanya,’’ imbuh Isbani.

Kepala DPMPTSP Kabupaten Madiun Arik Krisdiananto memastikan kegiatan di Banjarsari Wetan ilegal. Pengusaha belum mengantongi TDUP hiburan atau izin OP penambangan. Pun dalam dua tahun ini tidak ada permohonan masuk untuk kedua jenis usaha tersebut. ‘’Karena illegal, urusan penindakan ya di satpol PP,’’ katanya.

Kemarin siang dua personel korps penegak perda meninjau lokasi. Seorang di antaranya Kasi Operasi dan Pengendalian Gatot Prasetyo yang mendokumentasikan area penambangan menggunakan telepon seluler (ponsel). ‘’Bahan laporan ke pimpinan,’’ katanya.

Gatot menyebut, lembaganya baru mengetahui praktik culas tersebut. Dalihnya, selama dua tahun ini tidak pernah menerima aduan masyarakat. Dia belum bisa memastikan ada tidaknya penindakan menilik nihil izin DPMPTSP. ‘’Persoalan ini masih dirapatkan instansi terkait. Kami menunggu hasilnya,’’ ujarnya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here