Peringati HAN, Wali Kota Kenalkan Kembali Permainan Tradisional di Depan Ribuan Anak

22

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Alun-Alun Kota Madiun riuh oleh ribuan anak PAUD dan TK Rabu pagi (31/7). Anak-anak dengan kostum serbaputih-hitam berselendang kuning itu berkerumun bukan untuk bermain. Namun, mereka menampilkan tari kolosal Jaranan. Bukan hanya itu, ada pula ratusan anak yang menari bujang ganong.

Total ada 1.000 anak memeriahkan ajang tahunan dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) itu. Mereka terdiri atas perwakilan dari seluruh TK dan PAUD di Kota Madiun. Dalam kesempatan tersebut, sekitar 300 anak lainnya diperkenalkan permainan tradisional. Seperti bakiak, gobak sodor, dan egrang. Serta penampilan paduan suara gabungan dengan menyanyikan lagu Aku Anak Indonesia dan Pecel Madiun. Tak lupa Wali Kota Maidi ikut mendongeng bersama Kak Bimo dari Jogjakarta dengan judul Pohon Pengetahuan.

SAYANG ANAK-ANAK: Wali Kota Madiun Maidi bersama ketua TP PKK Kota Madiun Yuni Setyawati Maidi ikut bermain permainan tradisional.

Maidi mengatakan, peran orang tua sangat penting untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional pada anak, terutama anak usia emas. Ini karena permainan tradisional memiliki falsafah dan nilai yang luhur.

’’Bahwa tumbuh kembangnya anak ini memang andil dari orang tua cukup besar. Anak juga harus dikenalkan dengan permainan-permainan yang tradisional. Setelah kita lihat dan kaji, bahwa permainan tradisional itu menjadikan anak lebih sabar, anak menjadi tekun, anak kerja sama, dan toleransi dengan yang lain. Itu manfaatnya, jadi ke depan tidak kita tinggalkan,” ungkapnya.

SEMARAK HAN: Polah tingkah anak-anak yang menari bujang ganong.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun Heri Wasana menyatakan, permainan tradisional harus tetap ada karena merupakan warisan budaya yang diyakini mampu menumbuhkan rasa kebersamaan. Karena itu, upaya pelestarian permainan tradisional dilakukan mulai pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK).

“Tentunya salah satu upaya kita untuk pelestarian permainan  tradisional yang sekarang sudah hampir punah adalah coba lewat lembaga pendidikan TK atau PAUD untuk memperkenalkan di setiap kesempatan,” kata dia.

Memperingati HAN tahun 2019, dindik juga menampilkan beberapa jenis permainan tradisional. Di antaranya dakon, engkleng, jamuran, dan lain sebagainya. Pihaknya berharap guru dan kepala sekolah dapat memperagakan permainan tersebut di sekolah sebagai upaya pelestarian budaya.

Dijelaskan, peringatan HAN 2019 di Kota Madiun seluruhnya diikuti sekitar 2.300 anak, mulai PAUD, RA, dan TK se-Kota Madiun. Mereka terbagi ke dalam sejumlah kegiatan, yakni 1.000 anak mengikuti tarian masal Jaranan. Berikutnya tarian bujang ganong. Sedangkan lainnya tergabung dalam paduan suara, seni karawitan, serta dolanan tradisional. (her/c1/ota/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here