Fulus dari Tetes Getah Pinus

32
TELATEN: Djumani sedang mengambil getah pinus dengan sebuah pethel.

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo –  Pagi itu, Djumani tampak berjalan dari rumahnya menuju hutan pinus miliknya sambil menenteng pethel dan  jeriken plastik. Sampai di lokasi, dia langsung mendekati sebuah pohon pinus berdiameter sekitar 30 sentimeter.

Kulit pohon itu dipahat sampai setinggi 10 sentimeter hingga terlihat batangnya yang berwarna putih. Bersamaan itu keluar getah kental seperti lem. Cairan tersebut mengalir ke bawah dan tertampung di tempurung kelapa. ”Kalau sudah penuh dimasukkan ke jeriken,” kata Djumani.

Djumani memiliki 108 pohon pinus. Bibitnya bantuan pemerintah pusat 10 tahun silam. Kini, dari ratusan pohon itu dia mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp 500.000 hingga Rp 800.000. ‘’Inginnya bibit diperbanyak lagi, ada sarana pengangkut getah dan timbangan digital agar hasilnya lebih akurat,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Arga Lestari Mulyono menambahkan, masih ada anggapan keliru di kalangan warga seputar pohon pinus. ‘’Masyarakat menganggap hasil utamanya kayu. Padahal, yang lebih bernilai ekonomi itu getahnya,’’ ungkap Mulyono.

Namun, anggapan salah itu perlahan terkikis. Bahkan, setahun terakhir mulai banyak warga yang memanfaatkan pohon pinus rakyat untuk diambil getahnya. ‘’Yang dulunya buruh sadap pinus milik Perhutani, sekarang menyadap pohonnya sendiri,’’ tuturnya.

Dia menyebut, pohon pinus yang bisa diambil getahnya  adalah yang telah berusia minimal delapan tahun. Satu batang dengan diameter pohon 30 sentimeter bisa menghasilkan getah 3—4,5 tempurung kelapa. ‘’Satu kilogramnya kira-kira tiga batok,’’ sebut Mulyono.

Getah tersebut kemudian dikumpulkan secara swadaya di salah satu rumah warga. Dalam sebulan, dua kali penyadap mendatangi rumah itu untuk menimbang getah dan menjualnya. ‘’Kami menggandeng pihak ketiga, buat kesepakatan per kilogram dihargai Rp 8.000,’’ jelasnya.

Dengan harga jual yang stabil, kini semakin banyak warga yang menyadap getah pinus di lahan masing-masing. ‘’Selain getah pinus, desa ini punya potensi peternakan dan UMKM,’’ ungkapnya.

Berkat terobosan KTH Arga Lestari, awal September lalu Mulyono bertolak ke Jakarta memenuhi undangan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). KTH yang dinakhodainya diganjar juara II lomba wana lestari tingkat nasional. ‘’Di sini  yang sudah bergabung KTH tiga dari empat dusun yang ada. Jumlahnya ada 2 ribu KK lebih,’’ imbuh Kepala Desa Selur Suprapto. (dil/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here