Madiun

Fokus Lahirkan Atlet Balap Sepeda Tangguh

MADIUN – Geliat olahraga bersepeda di Kota Karismatik semakin asyik. Semakin banyak klub atau komunitas bermunculan. Sebut saja, Banjarejo Road Bike (BRB), Freedom Cycling Club Madiun (FCCM), Cangkring Cycling Club (CCC), Radar Madiun Cycling Club (RMCC), Woman Road Bike Madiun (WRBM). Dan, yang paling legendaris IPSM.

Jumlah cyclist baik road bike maupun MTB setiap tahunnya terus bertambah. Sekarang bisa sampai ratusan orang. Gelaran event bersepeda di Madiun Raya semakin padat. Paling dekat, Karismatik Cycling Community (KCC) 2019 , yang digelar Pemkot Madiun bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Madiun 9 Maret mendatang. ’’Era tahun 2000 masih sepi event. Kalau IPSM mengadakan ya panitia, ya jadi peserta,’’ ujar Slamet Santoso, anggota IPSM saat peluncuran jersey baru IPSM 2019, di i-Club Kota Madiun.

Pemilik lisensi kepelatihan atlet balap sepeda itu lantas berbagi cerita suka duka bersama IPSM. Saat itu, belum banyak komunitas yang ada di Kota Karismatik. Meski jumlah pesepeda masih sedikit, para cyclist rutin gowes bareng. ’’Ya awalnya memang bersepeda bareng persahabatan, tapi kalau mau sampai finis balapan. Zaman itu takut kalau dapat julukan juru kunci,’’ ujarnya disambut tertawa para cyclist IPSM.

Slamet berharap, banyak atlet balap sepeda tangguh lahir dari Madiun Raya. Semua butuh dilakukan pembinaan. Masing-masing klub harus sering mengikutkan para atletnya terjun di kejuaraan maupun event. ’’Sekarang era milenial teknologi untuk jersey maupun sepeda sudah semakin bagus dan modern, ini sangat mendukung bagi atlet,’’ kata Slamet.

Senada disampaikan Ketua IPSM Sony Hendarto, Madiun Raya harus mampu melahirkan atlet-atlet balap sepeda yang berprestasi. Pada saat peluncuran jersey anyar IPSM, Sony juga memproklamirkan penggantian akronim dari IPSM. Dulunya, Ikatan Penggemar Sepeda Madiun, kini berganti Ikatan Pembalap Sepeda Madiun. ’’Resmi berubah singkatannya, ini juga memotivasi agar semakin banyak lahir pembalap-pembalap andal dari Madiun,’’ ujar pria yang rutin bersepeda sejak dekade tahun 1990-an tersebut.

Sony juga berharap agar para cyclist di Madiun bisa guyub rukun. Gowes bersama melahap berbagai rute. Sehingga pada tahun 2018 sampai menginisiasi adanya event bersepeda bersama yang dinamai Saturday Ride Fever (SRF). ’’Apapun nama klubnya harus tetap guyub, kalau sepakat gowes ya tinggal gowes bareng, enjoy saja,’’ ujarnya.

Masih kata Sony, butuh kebesaran dan kerendahan hati untuk kebersamaan dalam klub. Seperti IPSM yang sudah berdiri sejak 1992. Semua akhirnya terjaga hingga klub eksis sampai sekarang. Sejarahnya, dulu IPSM sengaja dibentuk atas dasar keprihatinan. Yakni, saat itu hubungan dua klub, antara RCC dan MTB tidak begitu akrab. ‘’Kami putuskan di Madiun hanya ada satu saja, yakni IPSM. Kepanjangannya Ikatan Penggemar Sepeda Madiun,’’ jelasnya.

Pasca menerima jersey, para anggota IPSM langsung mendapat tantangan. Yakni, pagi kemarin IPSM gowes bareng dengan rute via Randu Alas, Kabupaten Madiun dengan mengenakan jersey anyar. Selain itu, acara peluncuran jersey semakin seru ketika IPSM juga memberikan awards kepada sejumlah cyclist. Ada banyak kategori. Seperti yang diterima Direktur Jawa Pos Radar Madiun Aris Sudanang, yang mendapat predikat pembalap tak kenal lelah. Selain itu, IPSM juga mengapresiasi kepada Noval Farhan, sebagai pembalap termuda terbaik. Pelajar kelas VII SMPN 13 Kota Madiun itu terus digembleng. Noval dan sejumlah atlet balap sepeda muda di Kota Karismatik diharapkan bisa mencatatkan prestasi di kancah nasional. (ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close