Fogging Masal Tak Sasar Seluruh Kecamatan

83

PONOROGO – Penetapan kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah dengue (DBD) telah berjalan sepekan. Sejak diterbitkannya SK Bupati Ponorogo per 30 Januari lalu. Sejak itulah seluruh kecamatan dinyatakan endemis.

Namun, mengapa hanya 17 kecamatan yang menjadi sasaran fogging masal? Hanya menyasar Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, kauman, Mlarak, Ngrayun, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, dan Sukorejo. ‘’Kecuali tiga kecamatan yaitu Sooko, Pudak, dan Ngebel,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo drg Rahayu Kusdarini.

Pemilahan kecamatan berdasarkan data penderita DBD yang tersebar di masing-masing kecamatan. Selain usulan dari puskesmas, juga tidak semua desa di tiap kecamatan menjadi sasaran pencegahan luar biasa. Satu kecamatan ada yang dua hingga tiga desa. ‘’Untuk saat ini kami terus tunggu usulan dari puskesmas lain,’’ ujar Irin, sapaan Rahayu Kusdarini.

Fogging masal itu juga dilengkapi ultralow volume (ULV) pinjaman dari Dinkes Jatim. Alat tersebut berbeda dengan alat fogging manual. Di media sosial, netizen meragukan efektivitas alat pembasmi tingkat tinggi tersebut. Sebab, petugas yang menyemprotkan mengendarai mobil sembari jalan. Tidak menjangkau ke rumah-rumah warga.

Irin mengklaim ULV merupakan penyemprotan obat fendona (sama dengan fogging manual) yang dicampur air dengan cara pengabutan. Meskipun terlihat asap yang keluar hanya tipis, namun dapat menjangkau 100-200 meter. Hanya, memang alat tersebut tidak dapat menjangkau detail ruangan layaknya fogging manual. ‘’Kalau fogging manual bisa ke kamar dan ruang rumah lainnya,’’ terang Irin.

Pemkab juga telah menambah fogging manual menjadi 10 alat. Dengan harapan,  status KLB DBD terpungkasi Februari ini. ‘’Tentunya harus disertai gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk, Red) serentak yang berkualitas,’’ tegasnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here